Showing posts with label inhabitant. Show all posts
Showing posts with label inhabitant. Show all posts

Thursday, November 18, 2010

Idul Adha 1431H, Unity in Diversity

Allahu akbar, Allahu akbar, la illaha ilallahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahilham…

Gema takbir berkumandang, memuji kebesaran asmaMu. Kau Tuhan yang Satu, Esa, tak pantas jika kami perselisihkan Kau karena perbedaan yang diakibatkan kurangnya ilmu kami. Maka jadikanlah perbedaan ini anugerahMu. Sebagai salah satu bahan pembelajaran dariMu, agar kami manusia dapat semakin menyadari arti kebesaran asmaMu.

***

Tahun ini 1431 H, bertepatan dengan 2010M, aku melaksanakan sholat sunah Idul Adha 2 kali. “Ga dosa tuh?” tanya adikku. Ini sunah, ga ada yang dosa. Yang dosa itu kalau puasanya di hari tasyrik, nah lho!
Jadi memang, sebagian umat muslim di negeri ini merayakan Idul Adha sehari lebih awal dari yang ditetapkan pemerintah. Perbedaan keduanya bukan mengada-ada, tapi masing-masing memang memilki dasar yang kuat dan dalil sendiri-sendiri. Bagi yang merasayakannya lebih dulu, hal itu dilandaskan bahwa Idul Adha berkaitan dengan pelaksaanaan ibadah haji di tanah suci. Jadi ketika jama’ah haji di Arafah telah wukuf, itu adalah tanggal 9 Dzulhijah, dan keesokan harinya berarti tanggal 10 Dzulhijah yang ditanggalan masehinya adalah tanggal16 November. Sedangkan pemerintah lebih mendasarkan pada hilal, atau perhintungan dengan melihat bulan, dimana tanggal 10 Dzulhijah jatuh pada tanggal 17 November. Jadi perbedaan semacam ini adalah hal yang wajar, karena negara kita terletak lebih timur dibandingkan Arab Saudi.
Jadi mana yang benar?
Jika demikian pertanyaannya, saya yakin yang tidak bisa menjawab pertanyaannya bukan hanya saya. Karena masalah seperti ini memang tidak untuk dipertentangkan tapi untuk diambil hikmah dan pelajarannya. Sedangkan kebenaran yang hakiki adalah milik Allas SWT semata. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha, sebisa mungkin, sedekat mungkin, dengan kebenaran.
Semoga kita menjadi umat yang mendapat petunjuk dan perlindunganNya selalu. Selamat Hari Raya Idul Adha, selamat berbagi, selamat saling menghargai!

Monday, September 14, 2009

Pengingat Kecil

Ada saat-saat dimana kita bisa bahagia dengan hal-hal kecil, hal-hal remeh temeh, hal yang sebenarnya tidak lagi asing atau baru bagi kita, namun kita seperti baru saja menyadarinya. Saat itu, mungkin Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita, berusaha meruntuhkan kesombongan kita, mengajari makhluk bengal bersama manusia, dan kita beruntung masih ditegur dengan cara-cara yang ‘sopan’, penuh kasih sayang khasNya.


Seperti malam itu ketika aku (akhirnya) pergi juga ke masjid untuk menunaikan sholat isya’ dilanjutkan tarawih. Ada aura tersendiri yang membuatku rindu untuk kembali kesana, ke masjid, walaupun itu cuma masjid kecil di kompleks perumahan kami. Masjid itu tadinya mushola, yang kemudian dikembangkan dari dana donator sana-sini hingga menjadi lebih luas dan layak disebut masjid. Sudah ber-Ramadhan2 ketika aku kecil dulu ikut tarawih disana, maklum paling dekat rumah. Dan hal itu, tidak pernah kusangka akan menjadi kerinduan tersendiri saat bulan Ramadhanku tidak dihabiskan di rumah, melainkan di bangsal rumah sakit misalnya.


Kita tak pernah mensyukuri sesuatu sampai kita sadar saat nikmat itu dicabut dari diri kita, kata seorang ustadz pada ceramah malam itu. Tapi benarkah? Mungkin jangan sampai nikmat itu dicabut dulu, mungkin kita hanya butuh pengingat2 kecil. Seperti yang terjadi saat aku sedang asyik dengan Qur’anku, bertadarus di tengah saf wanita pertama. Pengingat kecil itu diucapkan oleh seorang ibu setengah baya yang duduk bersila di sebelahku. Tanpa menunggu aku berhenti membaca sampai ‘ain, suaranya telah membuatku ‘terpaksa’ menengok mengalihkan perhatian dari mushaf di tanganku. “Mbak, emang kelihatan tulisannya? Kecil banget tuh!”
Bacaanku terhenti, dari heran, berganti senyum, “Kelihatan kok, Bu…”
Alhamdulillah, ucap hatiku sebelum lanjut membaca ayat2 suciNya. Pengingat kecilku sedang berbunyi, mengingatkanku untuk mensyukuri karunia besar bernama penglihatan. Penglihatan yang walaupun kita ‘miliki’ namun tidak selamanya bisa ‘sempurna’. Sekarang ini saja aku sudah pakai kacama minus, tapi syukurlah untuk membaca huruf2 kecil tidak menjadi masalah. Sementara bagi ibu itu, yang usianya barangkali menginjak setengah abad, membaca tulisan sekecil mushaf itu tidak dapat dilakukannya.


Terimakasih Tuhan, jangan ambil nikmat ini dulu, aku akan berusaha mensyukurinya tanpa perlu kehilangannya. Syukur kecil itu ternyata membawa kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan sederhana dari nikmat yg sebenarnya tidak pernah kecil dan sesederhana itu.

Friday, April 24, 2009

Damn it!

Bagian yang paling tidak kusukai dari perselisihan adalah keributan. Keributan, apapun bentuknya, ribut-ribut, apalagi jika tidak menyelesaikan masalah, malah menambah rumit, tambah tegang, stress, personal relationship jadi minus-minus-minus, (kaya’ di The Sim’s kalo anda para gamers).

Bisakah kita bicara pelan, tidak terburu-buru, dan berpikir dulu. Sebelum berpikir kita harus mendengar, dan supaya bisa mendengar dengan baik kita harus diam. Jika lawan bicara sudah selesai, baru giliran kita yang bicara. Bisakah? Kita kan punya dua telinga dan satu mulut. Maka setidaknyaharus mendengar dua kali. Sekali mendengar dengan daun telinga, dan sekali lagi mendengarkan dengan hati dan meminta fatwanya. Sementara itu otak punya waktu yang cukup untuk dialiri oksigen, jadi bisa berpikir dan memilah-milah.

Bayangkan, saat kita bicara berarti kita berhenti bernafas, pasti otak juga sudah megap-megap dan berhenti buat berpikir. Jika sudah demikian yang keluar dari mulut kitapun seadanya, sekenanya, seenaknya. Apalagi kalau pakai ego, diri pasti merasa paling benar, dan yang lain salah semuanya.

***

Suatu siang aku terjebak dalam keributan. Di tempat dimana aku mau makan lagi!
Damn it!
Jadi aku diam, menunggu selesai, lalu bicara secukupnya, dan menyingkir untuk meneruskan acara makanku yang tertunda.

Friday, April 3, 2009

Mengurus Perpanjangan SIM...Sendiri


 

Seperti trenggiling yang bisa menjadi bola2 lalu menggelinding bebas, atau landak yang tak peduli jika hewan lain bisa tertusuk durinya. Aku memakai ‘filosofi’ ini untuk menghadapi hari itu. Saat aku harus mengurus perpanjangan SIM-ku sendiri di Polres Bekasi. Cuek dan tegar

SIM A – ku sudah kadaluwarsa hampir 2 bulan. Sebagai warga negara yang baik, maka aku berinisiatif mengurus perpanjangannya sendiri, tanpa batuan calo (huu…). Oke, tadinya aku memang akan meminta bantuan agen, mengingat waktuku tidak banyak, dan membayangkan betapa ribetnya urusan administratif seperti ini, belum2 sudah underestimated duluan. Untungnya (atau anehnya) agennya menolak, malah menyarankan untuk mengurus sendiri. Katanya hari gini pemilu, banyak polisi2. Trus? Perasaan ga ada hubungannya deh. Kemudian dia menyebutkan ancer2 biaya yang harus dikeluarkan, dan katanya pula mengurus SIM sekarang ini cepat, tidak perlu seharian nongkrong di Polres.

Okelah, batinku, coba saja.

Hm, bayanganku ternyata tepat. Saat aku turun dari kendaraan dan hendak masuk ke polres, orang2 yang berdiri di sekitar situ seperti sudah bisa membaca pikiranku, “Perpanjangan SIM, Neng? Yuk, abang bantu yuk!” cenanyang2 hebat bermunculan.

Waw, ogah banget deh , yang ada aku lari, hehe…

Tapi bukan gitu caranya. Entah belajar dari mana (mungkin dari pengalaman jadi preman kampung melayu 3 taun ya, hihihi..), aku mengangkat wajah, pandangan lurus ke depan, langkah kaki tegas lebar-lebar, dan jangan buang2 waktu dengan celingukan apalagi menanggapi mereka, pokoknya jangan terlihat kalau kita bingung dan siap ditipu lah. Pandangan memang lurus ke depan, tapi lapangan pandang kita maksimalkan dong, apa gunanya punya 2 mata kalau gitu coba (gebet cowok cakep, polisi ganteng… gubraks!). Perhatikan sekeliling, baca situasi, cari sesuatu yang bisa dipercaya, seperti tulisan ‘pengurusan SIM’ bla..bla..bla… Dan ternyata tulisan itu ada, tersembunyi di pojokan, tidak akan terlihat dari luar, kecuali anda sudah masuk ke serambi.

Agak lega, tapi masih melangkah dengan sikap sok tahu, kuikuti saja terus tanda panah-tanda panah itu, melewati lorong dengan berbagai ruangan-ruangan di samping-sampingnya, membingungkan. Jadi daripada kelamaan bingung, aku masuk WC saja dulu (trik nomor 14: miksi mengurangi ketegangan, mengosongkan kandung kencing, dan merupakan kesempatan emas untuk merapikan make up, hihihi…).

Selanjutnya kembali ke jalan yang benar, aku menemukan bapak2 bersegaram dalam box kaca bertuliskan informasi SIM. Hm, I think he’s Mr. Right. Jadi aku tanya padanya, darimana aku harus memulai jika ingin memperpanjang SIM.

Aku mengangguk cepat dan tidak berlama2 disana, karena ternyata aku harus keluar lagi, cek kesehatan di luar gedung. Wow, dimanakah itu? Kita lihat saja. Jadi aku pasang lagi aksi sok pede-ku, tanpa banyak bertanya, langsung lurus ke gang di samping polres. Gang itu makin lama makin menyempit, tapi tidak ada tanda2 atau tulisan poli kesehatan, yang ada malah tempat narkoba. Wuidih, hampir panik, tapi tahan..tahan.. keep cool, calm, confident. Ya, confident, itu yang penting. Aku masuk ke bangunan terakhir di ujung gang itu, tempat beberapa orang duduk di kursi panjang. Lagi2 tanpa tanda poli kesehatan. Mataku menangkap tulisan yang ditulis asal-asalan di sebuah kotak pulpen dari kertas di atas satu2nya meja disana, “SIM BARU”. Hm, setidaknya masih ada bau2 SIM-nya. Jadi aku langsung masuk saja ke bangunan itu, menemukan satu2nya ruangan dengan pintu terbuka dan berisi beberapa orang yang duduk di belakang meja. “Perpanjangan SIM, Mbak?” lelaki yang paling muda, tanpa seragam, di salah satu meja itu, adalah cenanyang kesekian yang kutemui hari ini. Dan kali ini aku menurut.

Tes kesehatan. Jadi lelaki itu meminta SIM lamaku, 2 lembar fotokopi KTP-ku, dan menanyakan tinggi serta berat badanku. Setelah itu aku pindah meja, kali ini seorang ibu-ibu dengan seragam, langsung membuka buku dihadapanku dan bertanya, “Ini?”

Aku menyebutkan angka yang tertulis. Empat kali di lembaran ischihara yang berbeda, lalu pertanyaan minus kacamataku. Well, cepat sekali pemeriksaan kesehatan ini. Aku pun membayar 22ribu (entah resmi entah tidak, karena tidak ada kuitansinya), lalu pergi dengan membawa selembar kertas kuning hasil pemeriksaan seadanya itu.

Oya, sebelumnya perlu kuperingatkan, agar membawa fotokopi KTP anda sebanyak 4 lembar untuk mengurus perpanjangan ini. Fotokopian di dekat situ mahal sekali, masa’ aku fotokopi 5x = 2000 perak, huhu...

Selanjutnya aku masuk kembali ke gedung polres, membayar asuransi sebesar 15ribu rupiah di salah satu loket. Kemudian berpindah ke loket lainnya bertuliskan PERPANJANGAN SIM RP. 60.000,-. Mengambil seberkas formulir yang harus diisi, dan teringat bahwa aku tidak bawa pulpen.

Ini saatnya menurunkan sedikit kadar kecuekanku dan mengintip korban yang tepat untuk dipinjam bolpennya. Pertama, seroang lelaki berkaus hitam, tapi ternyata ia mau ujian tertulis, jadi ia mengambil kembali bolpennya sebelum aku sempat memakainya. Kemudian, dan ini yang terakhir, korban yang lebih aman, mbak2 yang lagi duduk terbengong2, dan dia bawa bolpen. Thank’s a lot, mbak! Jadi bagaimana cara mengisinya? Aku dengan bodoh 2x bolak-balik ke loket krn ada yg belum terisi, dan tampaknya petugas loket itu mengerti, oh mungkin aku sendirian yang bodoh.

Setelah mengembalikan formulir di loket III (untuk mengurus SIM baru di loket II), aku duduk dan memulai fase penantianku. Aku bisa lebih bebas mengamati sekarang, tempat pengambilan foto di sebelah dalam, dan tempat tes tertulis di dalamnya lagi dimana banyak orang duduk-duduk. Wah, aku tidak ingat dulu aku melakukan semua itu (ya iyalah, orang SIM aja nembak!).

Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk panggilan itu. Bapak berseragam di dalam box kaca informasi SIM yang melakukannya dengan suara lantang dan logat sunda yang kentara. Aku foto, tanda tangan, dan cap jempol tangan kanan dan kiri. Kemudian aku dipersilakan menunggu lagi di tempat yang sama.

Tak lama TOA di loket IV bergemerisik, menyuarakan beberapa nama dengan namaku diantaranya, dan sang petugas menyerahkan SIM baru kami. Total aku menghabiskan waktu satu jam dan rupiah 99.000,- untuk sebuah perpanjangan SIM dan kartu asuransi dengan jangka 5 tahun ke depan, sesuai dengan ancer2 yang disebutkan si agen yang sempat menolakku.

Aku turut berbangga, untuk kejujuran (dan memang sudah seharusnya begitu kan?), kecekatan (cuma 1 jam di kota macam bekasi, hebat ga sih?!), dan keramahan para petugas (yang merasa). Masih banyak kekurangan di sana-sini tentu saja, dan kebingungan2 yang kadang menimbulkan ke-underestimated-an bagi masyarakat. Tapi rasanya kita bisa. Bisa menjadi lebih baik asalkan kita mau berjuang untuk itu. Tidak pernah mudah, dan tidak pernah begitu menyenangkan pada awalnya. Namun mengapa tidak? Untuk perubahan yang lebih baik, untuk Indonesia kita, untuk pemilu tahun 2009 ini… mungkin dari sinilah awalnya.