Showing posts with label muse. Show all posts
Showing posts with label muse. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

Kado dari (mimi di) Surga




Hujan tak berhenti belakangan ini. Asisten rumah tangga kami pasti bersukaria karena satu tugasnya telah dilakukan langit. Pot-pot di keluarkan dari beranda, tanaman gantung diturunkan dari ayunannya, lalu biarlah alam dengan liar merawat mereka. Ah ya, aku minta maaf, sudah lama sekali aku tak menyentuh asal penciptaanku, tanah.
Berbicara tentang itu semua, semua tanaman yang kini dirawat dengan seadanya di halaman depan maupun belakang, tentu aku tak bisa melepaskan mimi dari ingatan. Mimi paling bahagia melihat tanaman-tanaman itu tumbuh dengan subur, beranak-pinak, apalagi berbunga. Kata mimi, mereka itu tahu berterimakasih, beda dengan manusia yang sering membangkang, mereka itu makhluk Tuhan yang patuh.Bahkan setelah satu tahun lebih kebergiannya, tanaman-tanaman itu terus saja menghiasi. Seolah mereka masih bisa merasakan harap jari jemari mimi yang dulu merawatnya.
Anggrek-anggrek mimi bermekaran lagi di awal bulan ini, bukan hanya sebatang, tapi dua, bahkan tiga. Mi, terimakasih kadonya. Indah sekali. Maafkan aku, putrimu, jika aku tak bisa membalas dengan seindah itu.

Monday, June 7, 2010

Satu Tahun Bunda

Satu tahunmu bunda, dan penyesalan itu tetap ada. Bukan, sekali lagi, bukan karena kepergianmu, bukan karena dirimu, tapi karena diriku, aku. Penyesalan terjadi pasti krn kita tdk berusaha sebaik mungkin saat kita masih diberikanNya kesempatan. Penyesalan ada pasti krn kita tahu seharusnya kita dapat melakukan hal yg lebih baik lagi. Penyesalan pasti datang belakangan saat kita baru menyadari, dulu betapa beruntungnya kita memiliki kesempatan itu.

Aku selalu berusaha menghapus penyesalanku dg melakukan apa yg bisa aku lakukan sekarang untukmu bunda. Merawat apa yang telah entah engkau rintis meski aku tak seahli dirimu, mematuhi kata2mu meski aku tahu dulu aku yg selalu membangkangnya, berdoa untukmu dg kalimat yg masih dan selalu sama, bukan karena tdk kreatif, tapi krn doa itu indah sekali, pantas sekali untukmu.

Bunda, ada lho saat2 aku merasa segalanya pasti akan lebih mudah jika kau ada disini. Saat2 seperti itu biasanya datang ketika aku kesulitan mengatasi suatu masalah, saat aku butuh pendapatmu tentang sesuatu, saat yang jika biasanya tanpa dimintapun kau ada di sisiku. Tapi aku tahu Tuhan punya rencana yg lebih indah untukmu, lebih baik untukku. Mungkin segalanya tidak akan lagi sama jika kau ada disini. Kau pasti lebih bahagia disana, bersamaNya, ya kan? Aku harap Tuhan memberimu tempat yg terbaik, yg amat baik, yg jauh lebih baik dari keseharianmu disini, aku yakin semua itu pantas bagimu, ibuku.

Bunda, aku ingin menghadiahkan segala sesuatu untukmu. 29 Mei ini kan hari ulangtahunmu, dan selama ini aku tidak pernah menghadiahimu apapun. Selain setumpuk doa itu, semoga sampai kesana, aku juga mau bilang, putramu sangat cerdas, adik kecilku sekarang sudah besar, dia lulus UN tertinggi di kelasnya dan membuktikan bahwa ia pantas masuk sekolah unggulan. Dia tidak akan mengecewakanmu, hasil didikan dan kasih sayangmu, semuanya tidak ada yg sia2. Lihatlah keberhasilannya sekarang, lihatlah rasa tanggungjawabnya yg mulai tumbuh sbg seorang lelaki. Dia putramu, kau layak berbangga karenanya. Aku harap aku tdk membuatmu sedih krn aku yg tidak sanggup menjaganya. Aku akan menjaganya, sebaik yg aku bisa, meski aku tahu itu pastilah masih terlalu jauh dari kasih yg kau berikan seandainya engkau yg melakukannya. Jangan khawatir ya bunda, kau sudah melakukan tugasmu dg baik sekali.

Bunda aku harap aku dpt menghadiahimu satu hal lagi, aku akan mjd spPD. Aku akan membantu banyak org yg sakit sepertimu. Semoga aku dpt mengurangi penderitaan mereka walau aku tak sempat meringankan penderitaanmu. Maafkan aku ya bunda, kau inspirasiku, pendukung terbesarku, tapi aku malah meninggalkanmu dulu. Semoga ini dapat menjadi penebus dosaku, semoga ini dapat membahagiakanmu. Kau tahu, kalau kau bahagia aku juga akan bahagia. Ah, bunda, itu kan kau, kau yg tak pernah mengeluh apapun, sementara aku selalu mengeluh padamu. Maaf ya bunda, cuma segini. Cuma segini yg bisa kulakukan untukmu, benar2 tak ada apa2nya jika dibandingkan dg semua yg telah kau lakukan untukku. Maafkan aku ya bunda, aku benar2 minta maaf. Kuharap kau mendengarku, memaafkanku, dan Tuhan mengizinkan kita kelak berkumpul kembali di surgaNya. Rasanya waktu itu tidak akan lama, ya kan?

Monday, May 24, 2010

Untuk Lelaki Tegar di Sampingnya



Wajah itu, ekspresi itu, tentu aku mengenalnya. Penyiar televisi mengatakan ia tampak terpukul. Ya, tentu saja, ia terpukul, tapi tidakkah kau lihat ketegarannya?
Lelaki itu BJ Habibie di pemakaman Ainun-nya.

***

Bapak, ketika itu, melepas semua prakteknya, meninggalkan pekerjaannya, menghabiskan semua waktunya di sampingnya, hanya di sampingnya. Setiap waktu sholat ia membimbingnya, mulai dari mengambil wudhu/tayamum untuknya, memasangkan mukenahnya, hingga mengimaminya. Di akhir sholat, doa yang panjang adalah untuknya, teman yang telah menemaninya hampir sepanjang hidupnya, disaat terbaik maupun terburuknya.

Itu juga yang kulihat pada dirinya, ketika ia harus menetap di Munchen bukan di Indonesia. Ia bukannya tidak nasionalis seperti yang dituduhkan segelintir orang. Tapi ini adalah bukti cintanya yang sangat dalam, tulus, dan konsisten seperti janjinya di titik awal pernikan mereka. Empatpuluhdelapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menguji kesetiaan mereka, tapi teramat sebentarnya bagi ia yang merasakan kenangan indah itu milik berdua.

***

Berikanlah kesabaran, keikhlasan, ketegaran dan kekuatan iman dan ketaqwaan. Hingga suatu saat kelak insan yang saling mencintai itu bisa kembali bersatu di surgaMu.

Selamat (jalan) Ibu


Kenapa setiap tahlil itu dibacakan, berhias rangkaian bunga, pelukan dan ucapan yang hangat, selalu ada mata yang berkaca-kaca, menjadi cermin hati yang sudah terlebih dahulu basah, doa demi doa yang bergulir. Hanya doa, menutup semua kenangan indah dan manis itu, kehidupan seorang wanita.

Ia masih punya mimpi besar. Banyak mimpi besar. Mimpi untuk bangsanya, untuk negerinya, keluarganya, putra-putrinya. Sebelum operasi itu, menurut dokter mata di yayasannya, ibu Ainun masih sempat mengirim email hasil pencariannya. Ya, bahkan di saar terakhir ia masih begitu peduli. Apa ia pernah berkeluh kesah? Aku ragu jawabannya ya.

Wanita itu mengingatkanku pada ibuku, hampir setahun lalu. Ibu juga punya mimpi besar, banyak mimpi besar. Aku tahu karena beberapa kali ia membagikannya pada kami. Hanya kami kadang kurang peduli, kami selalu berpikir tentu saja ia dapat mewujudkannya, ia akan mewujudkannya, seperti biasanya. Ketika aku pulang dan ibu menyambutku, aku selalu melihat hal baru di rumah kami, kreasinya, selalu ada saja, membuat rumah itu terasa semakin sejuk, nyaman, homey sekali. Dan itu hanya sebagian kecil dari mimpinya.

***

Aku sedang di halaman belakang kala pemakamannya akan dimulai. Belakangan ini aku punya cukup waktu luang sebelum berangkat kerja (jaga), atau ketika pulang keesokan harinya. Sebelumnya aku tidak terlalu suka bermain-main dengan makhluk hidup yang satu ini, tanaman. Tapi belakangan aku semakin senang, berbeda dengan kesenangan menulis, ini adalah suatu perasaan senang saat kita bisa memberikan ‘kehidupan baru’, atau memberikan tempat hidup yang baru, atau sekedar memperindah kehidupan. Aku tahu rasanya, mungkin itu kenapa ibuku selalu memperlakukan anggrek-anggrek ini seperti anak-anaknya sendiri. Katanya tanaman bisa diajak bercakap-cakap. Dulu aku tertawa mendengarnya, tapi kini aku tahu barangkali itu benar, aku berharap agar tanaman itu hidup di media yang baru dan menengoknya setiap hari “Hei, apakah kau baik2 saja, cukup sinar, cukup air?”

Aku merasakan naluri wanita yang tiba-tiba kusadari. Naluri membuat kehidupan, memastikan kehidupan terus berlanjut, merawatnya, memperbaiki dan memperindahnya. Hei, ini mirip dengan tugas profesiku kan?! Ibuku bukan dokter, tapi itulah yang dilakukannnya pada semua anak-anaknya, anak-anak saudara-saudaranya, bahkan anak-anak yang bukan siapa-siapanya. Ibu Ainun sendiri adalah dokter, dan dengan yayasannya jelas-jelas ia sedang memelihara kehidupan, memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Itu adalah sebuah nurani keibuan yang nyata. Naluri yang merupakan anugrah, yang terus diasah, yang semakin matang bersama bertambahnya usia dan pengalaman mereka. Dan mungkin itu yang diinginkan Tuhan terjadi pada kami juga. Barangkali itu sebabnya Tuhan menyudahi waktu mereka di dunia. Seolah Dia berkata, sudah cukup, semua yang kalian lakukan sudah cukup, Aku tahu kalian masih sangat bersemangat mewujudkan mimpi besar kalian, tapi biarkanlah anak dan cucu kalian belajar melakukannya, biarkan mereka yang akan meneruskannya, kalian sudah melakukan tugas kalian dengan baik sekali.



***

Bila seseorang telah meninggal, terputuslah untuknya pahala segala amal kecuali tiga hal,
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh. Aku yakin mereka memilki ketiganya. Tempat yang lebih baik daripada dunia dan segala isinya, telah Ia persiapkan disana.

Friday, February 5, 2010

Being A Doctor

Profesi ini ternyata tdk ringan. Senantiasa membuatku beristighfar stlh pasien keluar dari ruangan, dan mengucap ayat2 al qur'an apa saja yg kuingat saat sedang melakukan tindakan. Aku baru merasakan tgjwb yg begitu bsr. Ketika kita tdk bs fokus pd pasien, krn blm selesai kita memikirkan mslh pasien yg satu sudah saatnya kita mengambil keputusan dan menulis resep lalu beralih ke pasien berikutnya, yg juga tak ingin kita buat menunggu lama krn ia kemaripun sudah menahan sakitnya. Hingga akhirnya keluhan2 mereka terdengar sama, membuat kita melakukan manuver yg sama, lalu mengulang kata2 nasehat yg sama. Kita tdk ingat namanya, kita hanya ingat (spt judul2 laporan semasa koass dulu) 'seorang wanita 20th dengan bla bla bla'. Jd kita menyebutnya, oh anak dg suspek megakolon itu!
Bukankah itu melelahkan? Membosankan, dan menumpulkan analisis serta kepekaan kita?
Kita kadang butuh sebuah rehat, bukan sekedar rehat untuk memejamkan mata dan meluruskan badan, tp juga rehat untuk mengantisipasi keterkejutan kita, untuk memahami mslh pasien kita, untuk berdiskusi akan kekurangan kita. Lalu menginsyafinya. Saat itulah kita bljr untuk mjd kita yg lbh baik, berprofesi dg cara yg lbh baik, bersimpati dg sgala perasaan yg baik, kita tdk cukup lelah untuk mjd lbh baik. Sebab kenyataannya kebahagiaan kita bukan pd sekedar materi saja. Kebahagiaan kita adl kepercayaan mereka,terimakasih tulus mereka, dan kekeluargaan yg kemudian sukarela mereka utarakan.
Tgjwb profesi ini bsr, jauh lbh bsr drpd upah materinya, tp saya rasa sepadan dg semua kepercayaan mereka. Kepercayaan pasien pd dokternya. Itulah sebabnya kita tdk boleh berhenti belajar, berusaha, dan bahkan berdoa untuk mereka. Kesembuhan memang bukan di tgn kita, tp kita ikut bertanggungjwb atasnya.
Semoga kita dpt menjalankan amanah itu dg sebaik2nya.

Thursday, November 26, 2009

Catatan Kecil di Kereta

Kereta ini membawaku melintasi perbatasan kota-desa-gunung-lembah-bukit-sawah-hutan-sungai. Mengulang memoriku 6 tahun terakhir ini, betapa cepatnya. Membongkar kembali rinduku pada bunda, mengirimkan kembali pesan2 pendek pada teman2 ‘lama’, dan menyiapkan pijakan yang lebih utuh untuk rencana masa depan. Masih bingung, kadang masih marah, kadang juga merasa agak lega. Karena itu berarti pencarian lagi, petualangan lagi, perjalanan lagi.


Semalam nontok Kic* Andy sampai selesai. Tentang orang2 yang begitu yakin akan mimpi2nya, punya tekad sekuat baja, punya kepolosan sejernih embun, sejuk dan menyegarkan. Mereka sederhana, tapi dengan usaha yang sungguh2 mereka bisa mengubah segalanya, bermula dari diri mereka sendiri. Andai duniaku juga bisa sesederhana itu, seringan itu, sebersyukur itu, tentu tidak ada yg sulit dan membuat emosi kan. Semuanya akan lebih mudah dan damai, tenang dan bahagia. Jadi, kapan kita akan berhenti mengeluh dan menggantinya dengan syukur?


Setidaknya hari ini indah, sawah masih hijau, sungai2 kecil dengan batu2 besar, mendung dan udara yang lembab, tak peduli manusia berteriak di lorong kereta yang limbung. Syukuri saja. Yakinlah tidak pernah ada yang sia2, apalagi itu ciptaanNya.

Thursday, October 29, 2009

enam tahun

Aku berjanji untuk hari ini
Aku berjanji untuk hari ini enam tahun yang lalu
Aku berjanji bahwa semua ini akan sebentar saja
Aku berjanji bahwa aku akan segera kembali
Aku tidak pernah menyangka akan ada banyak sekali perubahan dalam jangka waktu yang kujanjikan itu

Yang pernah ada telah pergi
Yang tidak ada telah datang
Tapi aku pikir itu bukan kita
Bukan kau

Aku ingin sekali melihatmu bahagia
Ingin sekali membuatmu bangga
Ingin sekali menatap wajahmu berbinar, bercahaya
Ingin sekali kau hadir disini
Mendampingiku
Mendampingiku mengucapkan sumpahku
Mewujudkan impianmu

Aku sudah berjanji
Aku akan menepati janjiku
Segera

Maaf
Jika ternyata ini tak sempurna
Tak seperti yang kita rencanakan
Tidak persis seperti yang kita harapkan
Tak secemerlang impianmu
Tak sebulat janjiku

Hari ini, enam tahun yang lalu, Bunda
Aku berterimakasih untuk semua itu

Monday, September 14, 2009

Pengingat Kecil

Ada saat-saat dimana kita bisa bahagia dengan hal-hal kecil, hal-hal remeh temeh, hal yang sebenarnya tidak lagi asing atau baru bagi kita, namun kita seperti baru saja menyadarinya. Saat itu, mungkin Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita, berusaha meruntuhkan kesombongan kita, mengajari makhluk bengal bersama manusia, dan kita beruntung masih ditegur dengan cara-cara yang ‘sopan’, penuh kasih sayang khasNya.


Seperti malam itu ketika aku (akhirnya) pergi juga ke masjid untuk menunaikan sholat isya’ dilanjutkan tarawih. Ada aura tersendiri yang membuatku rindu untuk kembali kesana, ke masjid, walaupun itu cuma masjid kecil di kompleks perumahan kami. Masjid itu tadinya mushola, yang kemudian dikembangkan dari dana donator sana-sini hingga menjadi lebih luas dan layak disebut masjid. Sudah ber-Ramadhan2 ketika aku kecil dulu ikut tarawih disana, maklum paling dekat rumah. Dan hal itu, tidak pernah kusangka akan menjadi kerinduan tersendiri saat bulan Ramadhanku tidak dihabiskan di rumah, melainkan di bangsal rumah sakit misalnya.


Kita tak pernah mensyukuri sesuatu sampai kita sadar saat nikmat itu dicabut dari diri kita, kata seorang ustadz pada ceramah malam itu. Tapi benarkah? Mungkin jangan sampai nikmat itu dicabut dulu, mungkin kita hanya butuh pengingat2 kecil. Seperti yang terjadi saat aku sedang asyik dengan Qur’anku, bertadarus di tengah saf wanita pertama. Pengingat kecil itu diucapkan oleh seorang ibu setengah baya yang duduk bersila di sebelahku. Tanpa menunggu aku berhenti membaca sampai ‘ain, suaranya telah membuatku ‘terpaksa’ menengok mengalihkan perhatian dari mushaf di tanganku. “Mbak, emang kelihatan tulisannya? Kecil banget tuh!”
Bacaanku terhenti, dari heran, berganti senyum, “Kelihatan kok, Bu…”
Alhamdulillah, ucap hatiku sebelum lanjut membaca ayat2 suciNya. Pengingat kecilku sedang berbunyi, mengingatkanku untuk mensyukuri karunia besar bernama penglihatan. Penglihatan yang walaupun kita ‘miliki’ namun tidak selamanya bisa ‘sempurna’. Sekarang ini saja aku sudah pakai kacama minus, tapi syukurlah untuk membaca huruf2 kecil tidak menjadi masalah. Sementara bagi ibu itu, yang usianya barangkali menginjak setengah abad, membaca tulisan sekecil mushaf itu tidak dapat dilakukannya.


Terimakasih Tuhan, jangan ambil nikmat ini dulu, aku akan berusaha mensyukurinya tanpa perlu kehilangannya. Syukur kecil itu ternyata membawa kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan sederhana dari nikmat yg sebenarnya tidak pernah kecil dan sesederhana itu.

Thursday, August 27, 2009

100 Hari Bunda

Apa yang kamu lakukan kalau kamu ingat bunda?
Kamu dapat bersegera ke dapur dan menemuka
nnya sedang memasak masakan kesukaanmu
Atau mungkin kamu langsung mengangkat telepon
dan mendapati suaranya ceria menyambutmu segala ceritamu
Atau mungkin bagi yang tinggal di luar kota, kamu akan segera pulang dan mendapatinya membukaan pintu untukmu tak peduli jam berapapun itu


Apa yang kamu lakukan kalau kamu rindu bunda?
Kamu mungkin akan mengirimkan karangan bunga
terindah beserta surat rindumu
Atau kaumu juga dapat memesan kue kesukaannya dan membawakannya langsung ke hadapannya
Atau kamu senang melukis, dan menggambar foto dirinya lalu memberikan kepadanya ditambah kecupan mesra


Apa yang kamu lakukan kalau kamu merasa bersalah pada bunda?
Kamu bisa segera meminta maaf padanya, mencium t
angannya, atau berlutut di hadapannya, dan ia akan tersenyum memaafkanmu tanpa diminta dua kali
Atau kamu dapat meneleponnya, mengiriminya sms, dan segera mendapatkan sambutan hangat darinya, tanpa rasa dendam sedikitpun.
Atau jika kamu malu dan keras kepala sekalipun, kam
u bisa memberitahu adik atau kakakmu, dan malah bunda yang akan menghampirimu, mengunjungimu, dan menanyakan kabarmu




Dulu, aku pikir aku bisa melakukannya. Akan selalu bisa melakukannya. Dulu aku pikir, setiap aku pulang, yang membukakan pintu itu akan selalu wajah yang sama, yang menjawab telepon ke nomor itu adalah suara yang sama.


Dulu, kau tak pernah menyangka, ’ancaman’ di acara muhasabah agar kita bersegera meminta maaf pada orangtua kita itu, kini menjadi kenyataan dalam hidupku. Karena nyatanya sekarang aku tidak bisa berbicara langsung padanya, mencium tangannya, memeluk dirinya, bersimpuh di hadapannya, meminta maaf atas semua salahku padanya, berterimakasih atas semua yang telah ia korbankan untukku.


Jadi apa yang harus aku lakukan saat aku ingat bunda, saat aku rindu padanya, atau saat perasaan bersalah itu datang?

Friday, July 24, 2009

40 hari bunda

Aku sudah berhenti menangis sejak awal. Sejak pertamakali diberitahu bahwa akhirnya kami harus mengikhlaskan. Sejak tahu bahwa inilah saatnya ketakutanku yg hanya ketakutan itu menjadi kenyataan. Aku sudah pernah menangisinya dalam khayalanku dulu, dan aku sudah tidak takut lagi untuk menghadapi kenyataannya kini.

Sebelum saat tiba, beberapa kali aku memang kadang terbangun dengan tiba2 dan menangis. Atau sibuk berkhayal terlalu dalam dan menangis. Dalam setiap tangisan itu terselip segala macam kekhawatiran dan harapanku, dan itu semua ada komponen dari doa seorang hamba. Mungkin itu cara Tuhan menyiapkanku. Hingga tak perlu aku menangis meraung2, lebih panjang dan histeris, ketika sudah tiba saatnya. Aku bisa membisikkan kalimat Allah di telinganya dengan tegar tanpa suara bergetar, aku bisa melihat detik2 akhir nafas dan nadinya tanpa pandanganku tertutup kabut air mata, aku bisa menghibur adikku dan mengatakan ‘tidak apa2’ karena ia memang tidak apa2, ia hanya pulang, dan kelak kita juga akan menyusulnya, jadi tenang saja.

Jika ada air mata yg sampai saat ini menetes. Itu sungguh bukan airmata penyesalan kepergiannya, bukan air mata kesedihan krn tak ikhlas padanya. Air mata itu hanya air mata seorang anak yg tidak bisa menepati janji untuk membahagiakan ibunya di dunia. Padahal selama ini anak itu berdoa pada Tuhannya. Ya Tuhan kami ampunilah kami dan kedua orangtua kami, dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami disaat kami kecil. Doa itu, dulu selalu kupertanyakan diam2 bunyinya. Kenapa harus disaat kami kecil? Kenapa tidak berhenti pada seperti mereka menyayangi kami?

Hari2 belakangan, sebelum hari kepergiannya, aku sedang sibuk dg akhir faseku kuliah kedokteran. Perjalanan ini sudah kutempuh hampir 6 tahun, tinggal sedikit lagi yg hrs kulakukan untuk menyelesaikannya. Aku, dengan bersemangat tidak ingin meninggalkan atau menundanya, hanya untuk menunggu sesuatu yg tidak pasti. Setelah ini aku bisa disampingnya, batinku yakin. Setelah ini aku bisa berlama2 dengannya, kataku tanpa peduli. Saat itu, kami masih sangat optimis, krn ia sendiri sangat optimis. Tak pernah dibicarakan perihal pesan2 wasiat, asuransi, atau tabungan. Doa kami setiap hari masih sama, berikanlah kesembuhan pada ibu kami. Tak ada kata menyerah. Kami bahkan masih merencanakan lebaran tahun depan dimana dan apa saja yg akan kami lakukan.

Tapi manusia memang paling pandai berencana, sayang bukan mereka yang menentukan. Suatu hari (aku benci menceritakan ini), aku ditelepon lagi. Mendapat kabar bahwa kondisinya kritis. Sebelumnya aku sudah bolak-balik pulang dari desa tempat aku bertugas ke kota dimana keluargaku tinggal, jadi aku malah bertanya, apa aku perlu pulang? Pertanyaan itu terdengar jahat, dan memang begitulah. Begitulah mengapa air mataku masih tetap ada untuk sebuah penyesalan. Penyesalan bahwa aku tidak serius dengan doaku. Kasih sayang orangtua saat anaknya kecil tidak akan berbentuk seperti itu. Orangtua, apalagi seorang ibu, pasti akan segera pulang, berada selalu di samping anaknya, tak peduli sesibuk apa pekerjaanya, semuanya non-sense, tidak ada apa2 dibandingkan anak2nya. Jikpun ia sedang kuliah kedokteran misalnya, atau sedang punya proyek yg lebih besar itu, ia bahkan telah meninggalkan sejak dulu. Sejak anaknya berada di rumah sakit, apalagi jika telah bolak-balik masuk ICU. Jadi... kemana hati nuraniku saat itu? Kemana inti dari doaku? Apakah aku serius dg doaku? Jika yg memohon saja tidak berusaha, apa Tuhan mau bersusah payah mengabulkannya?

Doa itu ternyata, ada faktor kita untuk mengabulkannya. Ada faktor usaha, ada faktor kesungguhan. Apa yg dikatakan bahwa Ia tak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri merubahnya itu adalah benar.

Aku bukannya tak sayang ibu, aku sayang sekali. Tapi sayangku ternyata tidak sama dengan kasih sayangnya pada kami ketika kami kecil. Jadi, aku masih selalu meminta padaNya, tolonglah agar Ia mengampuni dosa2nya, menyayanginya sedemikian rupa.

Maafkan aku, bunda. Aku anak yang gagal membahagiakanmu di dunia, tapi aku berharap masih punya kesempatan dan sanggup membahagiakanmu di akhirat.

Friday, May 29, 2009

Mimpi

Kata seorang sahabat, mungkin aku perlu menuliskan mimpi2 ku, sejak mimpi2 seringkali mengungkapkan perasaan yang coba kututup-tutupi, kekhawatiran yang kuindahkan, dan kesadaran di alam bawah sadarku. Jadi aku memutuskan untuk menuliskannya kini, setelah lama pembicaraan tentang itu berlangsung. Mungkin ada baiknya, berusaha menyadari apa yg aku tahu tapi tidak aku sadari, atau mengetahui apa yg kucoba sembunyikan dari diriku sendiri.


Mimpi tidak pernah bercerita setiap detailnya. Namun kadang ada bagian2 yg begitu membekas, yg sangat mendetail, dan mungkin itu adalah bagian yg penting yg coba disampaikan dalam suatu rangkaian peristiwa yg coba kita pahami seperti peristiwa di dunia nyata. Sehingga, kadang yg tersisa dari ingatan kita tentang mimpi itu adalah berupa potongan2, kelebatan2, kadang terasa seperti de javu, sesuatu yang ‘hey, aku pernah merasakan ini sebelumnya!’ Merasakan, bukan mengalami. Atau mengalami suatu perasaan yg sama, tapi bukan mengalami kejadian yg sama.


***


Aku berada di tempat tidurku, selesai ujian dimana aku merasa aku tidak diuji. Dalam ujian lisan itu kami berdua, aku dan seorang teman lelaki, siapa orang ini tidak begitu jelas. Ia terus ditanya oleh penguji kami, dan aku merasa bisa menjawabnya seperti ketika aku membaca buku catatan. Jadi aku berusaha menjawabnya, tapi yg ditanya terus adalah dia bukan aku. Hingga ia selesai ditanya, aku tahu sekarang giliranku tapi aku takut sudah tidak dapat menjawab karena pertanyaan yang bisa kujawab sudah diajukan semua. Namun, ujian selesai begitu saja, aku tidak ditanya. Pikirku, mungkin karena pada 2 ujian sebelumnya aku sudah mendapat pertanyaan dari penguji2 lain yg sulit. Jadi disitulah aku, di kamarku. Bukan kamar yg kini kutempati, atau kamarku di Jakarta. Melainkan di kamar rumah masa kecilku.

Ada yg mengetok pintu, dan kemudian orang itu masuk. Mommy. Mom melihat ke atas ke arah AC yang ternyata mati, dan berkata, ”Disini anget juga.” Lalu mom ingin tidur ditempat tidur di sampingku, tempat yg biasanya ditempati adikku. Kulihat adikku sudah tidur di lantai di bawahku. Aku sangat bersyukur karena aku memakai piyama yg pantas dan sprei tempat tidur baru saja diganti serta masih rapi.

Aku memandangi mom yg kurus di sebelahku, menanyakan padanya, ”Kenapa tdk pernah dirasakan?” Aku bertanya tentang penyakitnya, menatap lehernya.

Mom memintaku menggosok lehernya dg semacam minyak, aku melakukannya dan mom menjawab. ”Ibu ini kuat, seperti laki-laki. Buat apa dirasa-rasakan, budhe juga bilang begitu kan?” Aku tidak ingat detail kata2nya, tapi kira2 seperti itu.

Kemudian memori itu menyergapku, membuatku berpikir, bahwa mungkin pada awalnya mom memang tidak merasakan, tapi kemudian sebenarnya ia telah pergi ke dokter. Bukan hanya ke 1 dokter tapi ke banyak dokter. Namun penyakit itu baru diketahui kira2 6 bulan setelah ia pergi ke dokter. Terlambatkah diagnosis dokter itu, hingga saat diketahui sudah stadium 3? Tapi bisa saja dokter tidak terlambat diagnosis, karena mom memang sudah disarankan biopsi namun ia menolaknya untuk beberapa lama, salahkah dia? Mom bukan org medis meski kini 3 anggota keluarganya adalah org medis. Jika demikian, mungkinkah ini kesalahan kami, keluarganya???


***


Aku tersadar dengan pikiran itu masih menggelantung di kepalaku. Tidak ingat antara batas tidur dan bangun karena, aneh sekaki bukan, orang berpikir dan melakukan analisis di dalam mimpi? Batas antara realita dan mimpiku semakin tak jelas. Batas antara alam sadar dan tidak sadar bahkan tak kumengerti. Semuanya meluap ke permukaan jika aku berada di alam bawah sadarku, membawakan kesadaran baru pada alam sadarku. Dan kemudian, di sisa hari itu aku menangis sampai puas sebelum aku akhirnya bersujud, menyerahkan segala kegundahanku padaNya, Sang Pemilik jiwa.

Tuesday, May 19, 2009

UntukMu, Tujuanku

Tuhan sayang, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang... aku berjalan tertatih2 menujuMu. Sangat lambat sampai kadang aku lupa atau bosan. Lalu kemudian Kau beritahu aku dg caraMu, agar aku bersegera, karena waktuku tak lama tersisa.

Di suatu saat, aku melihat oase dan ingin pergi ke sana. Tapi Kau segera menarikku, sedikit membentakku, dan menyadarkanku bahwa itu hanya fatamorgana. Kau ingatkan aku akan janjiMu, sekaligus Kau juga ingatkan aku pada janjiku.

Di jalan itu kadang aku mengeluh kelelahan, mengeluh kehausan, padahal sebenarnya aku cuma malas. Aku lupa kalau aku masih punya nafas, masih punya mata, masih punya kaki untuk melangkah, dan semua itu pemberianMu, tujuanku.


Di suatu fajar aku melihat matahari, aku pikir aku masih bisa melihatnya esok lagi, jadi kuindahkan saja perasaan takjub itu, dan sibuk dengan urusan duniaku.

Di suatu persimpangan aku melihat anak2 jalanan, mengemis, menengadahkan tangan, tapi aku pikir itu hanyalah simbol ekonomi semata, jadi tak kuanggap mereka ada, yang penting aku cukup berada.

Lalu, di sebuah sudut bangsal, aku bersemangat memeriksa orang2 yg sedang kesakitan, mendapatkan ucapan terimakasih yang sebenarnya harus kuucapkan, tapi semua itu kulakukan demi nilai dan laporan belaka, tak berpikir bahwa suatu saat bisa saja aku di posisi mereka.

Dan ketika malam mendera, bintang2Mu bermunculan di langit yg kelabu, aku pulang, kelelahan, mengantuk, dan terlelap, lupa bahwa aku belum menghadapMu, melaporkan rincian kesalahan dan dosaku hari ini, padahal Kau selalu akan mengampuni, jika saja aku mau sedikit memohon.


Salahkah aku, jika di malam yang lengang ini aku benar2 ingin pulang? MengharapMu berkenan memelukku, dan tak lagi melepaskan. Bimbing aku dijalan itu ya Tuhan, jalanMu, menujuMu, tujuanku. Maafkan aku..

Wednesday, May 13, 2009

That Spirit of Life

Hari ini, di radioterapi, aku berjalan cepat melintasi ruangan itu, ruang tunggu yang dipadati pasien. Pasien… Pasien2 tanpa harapan, pasien2 yg waktu hidupnya ‘bisa dihitung’, pasien2 yg menunggu...

Aku tidak ingin mengangkat kepala sebenarnya, tapi aku tak punya alasan tidak melakukannya tanpa teman disampingku untuk mengalihkan perhatian. Dan kemudian aku bisa melihat wajah2 mereka. Wajah yang mengingatkan aku pada satu orang. Yang tidak pernah aku lupa. Yang kemudian membuat kerinduanku membuncah. Dan membuat hatiku merintih. Dan tiba2 saja kaca2 bening itu hadir di pelupuk mata.

Seorang wanita kurus kering dengan posisi duduk membungkuk, wanita lain dikursi roda menutupi sebagian bawah wajahnya dengan kerudungnya, bapak2 dengan dengan coretan hitam di wajahnya memegangi botol bersedotan, dan yang lain dengan tampilan fisik yang menyayat hati dan membuat orang awam bertanya2, kenapa mereka?

Seorang bapak2, mungkin penunggu pasien menatapku heran karena berjalan begitu cepat. Aku melihat lurus ke depan, tapi pandanganku masih kabur, jika bukan di keramaian mungkin kristal2 itu sudah pecah seketika.

Apa kau tahu arti semua itu? Arti semua pengorbanan dan kepasrahan itu?

Lihat matanya... Matanya hidup, matanya bukan mata orang yang kalah, mata mereka adalah mata seorang pejuang.
Semangat mereka...yang bahkan tidak dimiliki orang biasa yang sehat. Semangat itu yang membuat mereka bertahan, entah dengan alasan apa. Semangat itu juga yg membuatnya bertahan, dan entah sampai kapan.
Jika sudah demikian ’hitungan waktu’ itu menjadi tidak penting. Bukankah esensi kehidupan adalah pada isinya, bukan lamanya...?

***

Tuhan, maukah Kau berbaik hati…sedikit saja, jika bukan untukku, tolonglah untuk ibuku...
Maukah kau Tuhan, mencabut semua rasa sakitnya, menghapus semua dosa2nya, meringankan segala urusannya, membahagiakan setiap bagian dari hidupnya. Ibu yang selalu melakukan yg terbaik untukku, lalu ia meminta maaf kepadaku malam ini… Anak macam apa aku, Tuhan... Aku yg seharusnya meminta maaf padanya, krn begitu byk kesalahan yg kulakukan, krn begitu byk kewajiban belum kulakukan.
Tuhan, maukah melindung ibuku yg selalu mendoakanku, membesarkanku tanpa minta imbalan, hanya ingin aku jd hambaMu yg baik….
Tuhan maafkan aku… Tolong dengar aku sekali ini, maukah Kau berbaik hati……

Monday, May 4, 2009

Ingin kubacakan Qur’an

Ingin kubacakan Qur’an di sampingmu, Bunda...

***

Bunda, hari ini aku sudah sampai surat Al-Mulk, kerajaan. Surat ke-67 dari 144 surat-Nya, juz 29, dan terdiri dari 30 ayat. Kau pasti akan senang mendengarnya. Surat ini dibuka dengan nama-Nya, Mahasuci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Bunda, dua malam yang lalu aku masih si sampingmu, sekarangpun, aku harap Tuhan mau menyampaikan bacaanku ke telingamu. Percaya bahwa ada putra-putrimu yang akan selalu mendoakanmu, dan lebih lagi, percaya bahwa doa-doa itu pasti akan Ia kabulkan. Ia, Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kita, siapa diantara kita yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa, Mahapengampun.

Saat itu aku membaca arabnya, dan bapak membaca terjemahannya. Lalu kemudian kau memintaku melanjutkanya lagi, hingga satu surat penuh kuhabiskan. Bahagiakah kau Bunda? Aku harap engkau bahagia. Karena aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan agar membuatmu bahagia, aku lakukan sebisaku.

Ia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kita lihat sesuatu yang tak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Mahapengasih. Aku memohon pada penciptamu, pada penciptaku, pada Yang Mahapengasih itu, maukah Kau Tuhan, menyembuhkan ibuku…?

Wednesday, April 29, 2009

rencanaNya

Aku tidak perlu untuk tahu kenapa, apa, untuk memberi respon ya-ya. Nomor yang tidak biasa dipakai, jam yang tidak biasa digunakan, daddy yang jarang menelepon, semua itu sudah cukup sebagai sinyal, ada sesuatu yang berbeda, yang amat besar membutuhkan perhatianku, dan aku, akan datang.

Aku berjanji. Besok. Tapi setelah telepon ditutup aku jadi bertanya-tanya, tidak terlalu lambatkah aku jika besok? Akankah terlambat aku jika besok?

Kemudian aku menggunakan suara anak-anakku untuk bicara, untuk menutupi sedihku, untuk menghalangi getaran suaraku, yang merambatkan ketakutanku. Aku memakai gaya cuekku, tak acuhku, tanpa tatapan langsung ke mataku, untuk mencegah air mataku jatuh satu-satu.

Biarkanlah aku menangis hanya di hadapan Tuhan, sendirian, dalam sepi, sunyi, tulisan, huruf-huruf. Biarkan pundakku bergetar hanya saat aku tersujud, saat ayat-ayat panjang dibacakan, saat Tuhan menyentuh hatiku di relungnya yang paling dalam.

Biarkan aku diluar bisa tersenyum, bisa memberi saran pada oranglain, bisa mendengarkan cerita mereka, menanggapi candaan mereka, kemudian aku pun cukup tegar mengurus sisanya sebelum perjalananku pulang.

Esok senja, mungkin aku di kereta, jika benar itu rencanaNya.

Sunday, April 5, 2009

That Circle


Lingkaran itu terdiri dari beberapa orang, kadang 4-5, kadang bisa 10 jika jumlah kami lengkap. Namun, berapapun, suasana yang dibawa tetap sama; sejuk, dan membuat rindu, entah mengapa…

 

Sore itu akhir minggu dari akhir stase, yang berarti minggu depan kami akan masuk stase baru berikutnya, membuat kami bisa menghirup nafas sedikit lebih panjang, apalagi bagi yang baru keluar dari stase besar dan akan masuk ke stase kecil, kehidupan koass. Hujan turun dengan diam-diam, tak pelak membuat kaca basah, jalanan basah, dan hatiku ikutan basah. Tuhan, senang merasakan siramanMu kembali, di lingkaran kecil ini aku merasa, Engkau ada.

 

Apa itu? Firasat, seperti kata Dee? Atau feeling, seperti yang temanku selalu bilang? Mungkin bukan. Mungkin itu yang disebut bisyaroh. Mungkinkah, isyarat Allah; sebuah peristiwa yang membuat kita berkembang?

 

Hari ini tentang kesembuhan, tentang kesehatan, tentang keajaiban, tapi juga tentang kesombongan, tentang wewenang, tentang tugas, dan tentang masa depan itu sendiri.

Kami lebih banyak bercerita tentang kehidupan. Ayat2 kauniyah yang bertebaran. Menggali-gali kembali ingatan. Kadang menyangkal, kadang mempertanyakan. Banyak hal, mengenai apapun di sekeliling kami, keseharian, yang terasa begitu berat kadang, kini dilihat dari sisi yang berbeda, mendapat dukungan yang berbeda. Dan kembali. Itu intinya, kembali ke eksistensi kami sebagai hamba. Membangunkan kembali keimanan yang tertidur lelap berapa lama. Mengingatkan. Nasehat menasehati dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Menyadari bahwa jiwa ini rapuh, mudah berbolak-balik seperti daun yang tertiup angin.

 

Di tengah lingkaran itu kadang disediakan makanan, kadang hanya ada air yang bening. Semua itu lebih dari cukup, dan hanya pelengkap semata. Yang selalu ada di tengah-tengah lingkaran itu, di tangan kami, adalah Al Qur’an, sebagai cahaya, bukan sekedar bacaan pembuka. Semuanya dilandaskan dari sana. Tempat seorang muslim  seharusnya memang demikian. Satu halaman, beberapa ayat, banyak hikmah. Diam2 aku memohon; berjanjilah untuk tidak melepaskan kami, Tuhan…

Thursday, March 26, 2009

Daun-daun Berguguran


 

Daun-daun berguguran, digantikan pucuk2 daun muda. Kematian adalah rahasia alam, tapi juga sekaligus sebuah kepastian. Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana kita akan mengakhirinya.

 

***

 

Pemakaman terakhir yang kuhadiri sebelum ini, yang hingga benar2 sampai di lokasi pemakamannya, kurang lebih dua tahun lalu. Saat itu cuacanya juga mirip seperti sekarang. Udara sangat panas, matahari enggan berbaik hati menyengatkan sinarnya, jika temperatur diukur mungkin mencapai 35 derajat celsius. Akan tetapi, ketika saatnya jenazah akan menemui asal penciptaannya, yang dari tanah kembali ke tanah, tiba-tiba saja awan bergerak memayungi, angin semilir pelan menyejukkan, hingga kemudian doa-doa panjangpun bisa dipanjatkan dengan lebih tenang.

Berbeda dengan pemakaman yang lalu, yang dipenuhi dengan pelayat, berpakaian hitam-hitam, yang asing wajah2nya bagiku. Pemakaman kali ini jauh lebih sederhana, di tempat pemakaman umum, tanpa upacara kenegaraan yg bersifat simbolis, tanpa derap langkah prajurit, dan tanpa tembakan senapan ke udara. Yang hadir, aku tahu, sebagian besar adalah kerabat, sebagian kecilnya tetangga, dan beberapa remaja masjid yang membantu mengusung keranda. Prosesinya berlangsung cepat. Secepat perginya ia, batinku.

 

***

 

Nisan baru. Warnanya dibuat serupa dengan warna nisan2 di sekelilingnya. Kelak, saat hari raya nanti, ada satu nisan lagi yang akan mendapat anggrek dan mawar kami. Yah, jika kami tidak segera menyusulnya. Semoga ia, amal, dan ibadahnya diterima disisi Allah SWT.

Thursday, March 5, 2009

Bagian Terindah Sebuah Cerita

Bagian terindah dari sebuah cerita itu, kutemukan bukan pada ending-nya, tapi bagaiamana cerita itu mencapai ending-nya.

***

Mataku berkaca-kaca. Berulangkali kali berkaca-kaca. Malu sih sebenarnya. Tapi apa daya, “Biar ga bersisa,” alasanku pada tetes yang terakhir. Tapi aku harap itu bukan yang terakhir. Nanti akan bersambung lagi, tapi bukan dihadapan manusia kaya’ gini, benar2 memalukan.

Awalnya di undian itu. Ketika aku tahu pengujiku dan memberitahu orang lain yang bertanya siapa pengujiku, entah kenapa wajah orang2 itu ikut prihatin. Like I’d face my doom day. Hey, aku sudah melewati lebih dari 10 stase koass, so many battles I’ve past, masa’ aku mau kalah di pertarungan ini? Yang benar saja. Nanti saja santai2nya, kalau sudah tua, kalau sudah renta, ga bisa apa2, terserah deh mau tidur berapa masa. Tapi kalo sekarang menyerah, no way lah.

Jadi, mungkin aku sengaja juga, saat memilih pasien baru itu sebagai pasien ujianku. Efusi kiri full, pikirku aku jadi ga perlu pf jantung. Entah kenapa, inginnya menghindar malah membuatku terjebak. Pasien itu ternyata pasien jantung!

Diagnosaku benar2 meleset. Dan itu terjadi di hari aku ujian.

“Dokter menegakkan diagnosis dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kalau pemeriksaan fisik salah, maka diagnosanya juga salah!”

Pengujiku meniggalkanku dengan kata2 itu terus terngiang di telingaku. No examination today.

Aku sudah melakukan semua yang aku bisa. Mungkin Tuhan mengerti. Jadi beliau memberiku satu kesempatan lagi. Seperti Tuhan telah memberikanku beribu2 kesempatan. Kesempatanku untuk kembali. Yang seringkali aku indahkan. Mungkin Tuhan cuma mau aku kembali. Menyebut namaNya, dan memohon.

Masa’ harus begini caranya, Lin?

Hasilnya sudah ada kok, Lin. Tinggal prosesnya… Proses yang sungguh2, dan permohonan yang sungguh2.

Maka kutuliskan, bukan hanya di note pad-ku, tapi juga di hatiku, bismillahi tawakalna alaullah…

***
Seperti sebuah cerita bagiku, barangkali, itu juga yang ingin Tuhan lihat dari kita, dari makhluk yang telah ia tetapkan 4 hal darinya: rizki, ajal, amal, dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Tuhan ingin sebuah proses. Proses yang akan membuat kita sempurna sebagai makhluk. Hingga ketika kita pulang, kita bisa mengatakan, ini lho Robb yang aku lakukan… Hasilnya, sungguh terserah Tuhan.

Thursday, February 12, 2009

Tuhan memenuhi janjiNya


Seperti dulu ketika aku memohon2 dengan sangat supaya aku bisa nyetir mobil sendiri. Dia bilang Dia akan selalu mengabulkan permohonan hambanya. Dan aku telah membuktikanya. Dia benar mengabulkannya. Beberapa tahun kemudian (meski harus beberapa tahun), aku bisa bawa mobil sendiri. Mungkin Dia sedikit menundanya, dalam beberapa tahun itu, agar aku lebih matur, agar aku tahu bagaimana rasanya memohon, dan agar aku selalu ‘bicara’ dengan-Nya.

Itu persis, persis sekali dengan sekitar 6 tahun yang lalu, ketika aku memohon di sepertiga malam, agar dipilihkan universitas yang terbaik. Dalam hati aku mengeluh di Jakarta. Aku memimpikan tempat yang lebih lapang agar aku bisa bergerak lebih bebas. Lalu saat pengumuman SPMB tiba, aku benar2 tidak diterima di UI, pilihan  pertamaku, tapi di Semarang, kota kelahiranku. Dia benar2 tahu, dan seperti namaNya, Dia memenuhi janjiNya.

Tampaknya wajar jika semua itu terjadi, semua permohonan itu terkabul, saat aku benar2 berinteraksi intens denganNya. Namun ternyata itu semua tidak hanya terjadi ketika kami benar2 dekat. Sempat aku merasa jauh. Jelas bukan karena Dia, tapi karena aku. Saat itu aku juga memohon dalam kesempitanku. Sempat aku berpikir, wajar saja jika Dia tak peduli padaku, karena aku juga bersikap tak peduli padaNya. Tapi mungkin karena terpaksa, aku memohon juga. Aku tak berharap banyak dikabulkan kali ini, tapi aku tetap berharap karena setahuku, setahuku Dia Maha Mendengar, Dia Maha Pengasih, dan Dia Maha Menepati Janji. Kemudian aku melihat bagaimana doaku perlahan-lahan dikabulkan. Tidak mudah, tapi aku dapat merasakan ‘tangan’Nya mengatur semua itu. Luwes dan indah sekali. Lagi, Ia menepati janjiNya, meski saat aku tak menepati janjiku.

 

***

 

Maafkan aku.

 

***

 

Tuhan memenuhi janjinya, jika ada yang ingkar, itu kita, dan entah kenapa Ia tetap memenuhi janjinya.

Monday, January 26, 2009

Malaikat Fajar

Hanya kadang. Kadang saja. Sekelebat begitu, terpikir olehku. Untuk apa aku lakukan semua ini. Mengobati orang lain, mengecek kondisi mereka setiap pagi, mendengarkan keluhan, memeriksa gula darahnya, memasang ekg-nya, mengganti infusnya... Kadang sampai membuatku lelah semalaman. Lalu tepar seharian setelahnya. Kadang kuberpikir, mengapa aku merawat orang lain yang notabene bukan siapa2ku, sementara ibuku sendiri sedang sakit dan aku malah meninggalkannya...?

Kadang sempat, di sela2 waktu jagaku, diantara jeda waktu aku melakukan tugas2ku. Aku melihat ke arah lain dan menanyakan lagi hal yang sama. Menghela nafas dan mencoba mencari jawaban.

Waktu itu fajar. Air bergemiricik dibawah langkah kakiku melewati jembatan yang mengubungkan gedung C dengan jalanan utama simpang II. Kariadi memang agak unik. Rumah sakit ini dibangun atas sungai dan bukit2. Banyak taman tempat kucing2 liar gemuk atau pasien kelas tiga menjemur pakaian. Sesuatu yang tidak akan kita temukan di Cipto misalnya. Aku keluar dari bangsal, melintasi taman dan jembatan dengan langkah kaki yang bergegas. Kucoba sekejap menikmati fajar itu. Udaranya yang segar jauh dari kepengapan bangsal, tetes2 embun yang sejuk, angin pagi ringan bersemilir. Dan mataku sesaat berkaca2...

Tuhan, aku tidak bisa merawat ibuku, tidak bisa mengobatinya, dan tidak bisa menyembuhkannya. Jadi tolonglah. Tolonglah meski semua yang kulakukan ini tidak seberapa. Tolong agar Kau merawatnya, Kau mengobatinya, Kau menyembuhkannya. Dan maafkan aku karena aku tidak berada di sampingnya.

Doaku fajar itu, dan kuberharap ada malaikat yang medengar dan mengamininya. Atau pintu langit masih terbuka dan doaku sempat menyisip ke dalamnya. Atau lebih dari itu,  Tuhan yang Maha Tahu, Maha Pengasih dan Maha Mendengar, bersedia mengabulkannya...