Friday, February 10, 2012
Monday, May 24, 2010
Untuk Lelaki Tegar di Sampingnya

Wajah itu, ekspresi itu, tentu aku mengenalnya. Penyiar televisi mengatakan ia tampak terpukul. Ya, tentu saja, ia terpukul, tapi tidakkah kau lihat ketegarannya?
Lelaki itu BJ Habibie di pemakaman Ainun-nya.
***
Bapak, ketika itu, melepas semua prakteknya, meninggalkan pekerjaannya, menghabiskan semua waktunya di sampingnya, hanya di sampingnya. Setiap waktu sholat ia membimbingnya, mulai dari mengambil wudhu/tayamum untuknya, memasangkan mukenahnya, hingga mengimaminya. Di akhir sholat, doa yang panjang adalah untuknya, teman yang telah menemaninya hampir sepanjang hidupnya, disaat terbaik maupun terburuknya.
Itu juga yang kulihat pada dirinya, ketika ia harus menetap di Munchen bukan di Indonesia. Ia bukannya tidak nasionalis seperti yang dituduhkan segelintir orang. Tapi ini adalah bukti cintanya yang sangat dalam, tulus, dan konsisten seperti janjinya di titik awal pernikan mereka. Empatpuluhdelapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menguji kesetiaan mereka, tapi teramat sebentarnya bagi ia yang merasakan kenangan indah itu milik berdua.
***
Berikanlah kesabaran, keikhlasan, ketegaran dan kekuatan iman dan ketaqwaan. Hingga suatu saat kelak insan yang saling mencintai itu bisa kembali bersatu di surgaMu.
Selamat (jalan) Ibu

Kenapa setiap tahlil itu dibacakan, berhias rangkaian bunga, pelukan dan ucapan yang hangat, selalu ada mata yang berkaca-kaca, menjadi cermin hati yang sudah terlebih dahulu basah, doa demi doa yang bergulir. Hanya doa, menutup semua kenangan indah dan manis itu, kehidupan seorang wanita.
Ia masih punya mimpi besar. Banyak mimpi besar. Mimpi untuk bangsanya, untuk negerinya, keluarganya, putra-putrinya. Sebelum operasi itu, menurut dokter mata di yayasannya, ibu Ainun masih sempat mengirim email hasil pencariannya. Ya, bahkan di saar terakhir ia masih begitu peduli. Apa ia pernah berkeluh kesah? Aku ragu jawabannya ya.
Wanita itu mengingatkanku pada ibuku, hampir setahun lalu. Ibu juga punya mimpi besar, banyak mimpi besar. Aku tahu karena beberapa kali ia membagikannya pada kami. Hanya kami kadang kurang peduli, kami selalu berpikir tentu saja ia dapat mewujudkannya, ia akan mewujudkannya, seperti biasanya. Ketika aku pulang dan ibu menyambutku, aku selalu melihat hal baru di rumah kami, kreasinya, selalu ada saja, membuat rumah itu terasa semakin sejuk, nyaman, homey sekali. Dan itu hanya sebagian kecil dari mimpinya.
***
Aku sedang di halaman belakang kala pemakamannya akan dimulai. Belakangan ini aku punya cukup waktu luang sebelum berangkat kerja (jaga), atau ketika pulang keesokan harinya. Sebelumnya aku tidak terlalu suka bermain-main dengan makhluk hidup yang satu ini, tanaman. Tapi belakangan aku semakin senang, berbeda dengan kesenangan menulis, ini adalah suatu perasaan senang saat kita bisa memberikan ‘kehidupan baru’, atau memberikan tempat hidup yang baru, atau sekedar memperindah kehidupan. Aku tahu rasanya, mungkin itu kenapa ibuku selalu memperlakukan anggrek-anggrek ini seperti anak-anaknya sendiri. Katanya tanaman bisa diajak bercakap-cakap. Dulu aku tertawa mendengarnya, tapi kini aku tahu barangkali itu benar, aku berharap agar tanaman itu hidup di media yang baru dan menengoknya setiap hari “Hei, apakah kau baik2 saja, cukup sinar, cukup air?”
Aku merasakan naluri wanita yang tiba-tiba kusadari. Naluri membuat kehidupan, memastikan kehidupan terus berlanjut, merawatnya, memperbaiki dan memperindahnya. Hei, ini mirip dengan tugas profesiku kan?! Ibuku bukan dokter, tapi itulah yang dilakukannnya pada semua anak-anaknya, anak-anak saudara-saudaranya, bahkan anak-anak yang bukan siapa-siapanya. Ibu Ainun sendiri adalah dokter, dan dengan yayasannya jelas-jelas ia sedang memelihara kehidupan, memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Itu adalah sebuah nurani keibuan yang nyata. Naluri yang merupakan anugrah, yang terus diasah, yang semakin matang bersama bertambahnya usia dan pengalaman mereka. Dan mungkin itu yang diinginkan Tuhan terjadi pada kami juga. Barangkali itu sebabnya Tuhan menyudahi waktu mereka di dunia. Seolah Dia berkata, sudah cukup, semua yang kalian lakukan sudah cukup, Aku tahu kalian masih sangat bersemangat mewujudkan mimpi besar kalian, tapi biarkanlah anak dan cucu kalian belajar melakukannya, biarkan mereka yang akan meneruskannya, kalian sudah melakukan tugas kalian dengan baik sekali.
***
Bila seseorang telah meninggal, terputuslah untuknya pahala segala amal kecuali tiga hal,
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh. Aku yakin mereka memilki ketiganya. Tempat yang lebih baik daripada dunia dan segala isinya, telah Ia persiapkan disana.
Thursday, March 25, 2010
Balbambalbam
Saya suka sekali cara Yu shin mencintai Deok man, cinta yg tulus dan benar2 tanpa pamrih, cinta yg merupakan pengabdian, yg bukannya menghancurkan tapi membangun. Bukan dengan memberi bunga atau kata2 manis, tapi dengan berada selalu disampingnya dalam situasi apapun, memegang erat pergelangan tangannya saat lari menyelamatkan diri, memeluknya saat tak ada satu orang pun yg ia miliki peduli, menjadi tameng dalam setiap kondisi tersulitnya, menunggunya dan selalu setia menungguinya meski ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghibur seorang gadis. Dan Yu shin benar2 menjadi gila saat ia harus kehilangan tuan putrinya, ia marah, sangat marah, dan kemarahan itu adalah bukti cintanya yang jujur. Cinta itu tetap ada, pengorbanan itu tetap ada, meskipun ia memilih pengikatnya sendiri, bukan ikatan bernama pernikahan, bukan dengan dengan cara memiliki. Krn cinta spt itu memang bukan cinta yg hrs memiliki, tapi cinta yg seperti itulah yang seharusnya dimiliki. Demi mimpi mereka bersama mereka harus menempuh jalan itu, Deokman sebagai ratu dan Yu shin sebagai panglima perang. Dan kata2 yg paling membuatku tersentuh adalah ketika sehari sebelum pernikahannya Yu shin berkata, “Mempertahankan kepercayaan rakyat itu lebih sulit daripada mempertahaankan cinta laki2 dan perempuan”. Ia telah memilih jalan yg sulit itu, jalan yg tidak semua org mau melaluinya.
Jika diingat, di pihak Mi shil, ada juga cinta yg mirip setulus itu, yaitu cintanya Seol Won pada Mi shil. Meski ia ditempatkan pada posisi yg selalu tidak menguntungkan, krn tidak akan pernah menjadi raja, ia selalu setia membantu Mi Shil dan menahan semua egonya sbg lelaki. Sayang tujuannya berbeda. Jika di pihak Mi Shil cinta itu bertujuan pada ambisi pribadi Mi Shil, sedangkan pada Yu shin cinta itu bermuara pada mimpi mereka, menyatukan 3 negara, di atas nilai2 kebenaran.
Cinta seperti itu memang penting, tapi ternyata penting juga untuk menentukan alasan dan tujuannya. Sehingga cinta yg tulus diserahkan itu tidak akan berakhir sia2 apalagi menghancurkan.
Thursday, January 7, 2010
TGQS
Kepedean Chuncu: meskipun masih muda dan tidak punya dukungan tapi dengan kelebihannyanya, yaitu kecerdasan dan kemampuan diplomasi, Chuncu menunjukkan bahwa org yg muda punya kelebihan dalam kemudaannya (dalam usia dalam hal pemikiran), dengan itu ia bisa menandingi yang lebih tua, dan menyusun basis kekuatannya sendiri, bersaing meraih keinginannya tanpa perlu merasa minder atau tak berdaya. Sepertinya saya harus banyak belajar padanya =)
Kepemimpinan Yushin: Yushin mengatakan bawa mempertahankan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya lebih sulit daripada mempertahankan cinta pria dan wanita. Makanya ia memilih mengorbankan diri (dan cinta)-nya demi rakyatnya, dan itu adalah hal yang di kemudian hari memberikan kemampuan padanya untuk menyatukan tiga negara, seperti yang diimpikannya. Saya jadi bertanya2, hari gini masih adakah pemimpin sekaliber dirinya dalam menjaga kepercayaan rakyat dan menjadi apa adanya (bahkan terkesan bodoh? ^.^)
Keeleganan Mishil: mungkin kalau cowok akan saya sebut kejantanan, tapi Mishil adalah seorang wanita, wanita yang cerdas (atau licik?), berambisi, dan pengendali yang baik. Orang2 bisa setia padanya tentu bukan tanpa alasan. Ia bisa menyatukan berbagai pihak dengan cara memahami keinginan masing2 pihak, memenuhi kebutuhan mereka, hingga kemudian menggunakan kesetiaan yang diperolehnya untuk mencapai tujuannya. Pantas jika putri Deokman senang mempunyai musuh seperti Mishil, karena dari Mishil-lah ia bisa banyak belajar.
Keyakinan Deokman: sejak menyatakan dirinya menginginkan tahta Shilla, tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi Deokman. Dari awal ia telah memutuskan mengorbankan perasaannya. Ia belajar dari musuhnya. Dan ia terus belajar dari sejarah meskipun ia telah memenangkan duel otak dengan strategi2 yang tidak konvensional. Kekuasaan yang dimilikinya tidak serta merta untuk memenuhi ambisi pribadinya (suatu hal yang berbeda dari Mishil). Deokman adalah ‘tuan negeri ini’, yang artinya ia mendedikasikan semua itu untuk rakyatnya, orang2 yang dipimpinnya. Pantaslah orang2 dapat mempercayainya dan menjadikannya sebagai pemimpinnya, karena mereka yakin mimpi Deokman adalah mimpi mereka juga.
Monday, November 16, 2009
No pain no gain
Bex tertegun, lantas tersenyum setuju. Ia sangat menyukai nada optimisme itu. Dari seorang teman yang dikenalnya dalam 6 tahun terakhir ini. Mereka sempat dekat di tahun-tahun pertama. Stelah itu mereka masih menjadi partner yang baik.
Menurutnya, mungkin ini juga jalan yang ingin dia tempuh. Jalan yang tidak selalu mudah. Yang agak berliku. Yang ada turunan, tanjakan, dan belokan tajamnya. Yang dibalik belokan itu telah menunggu hal mendebarkan yang mengejutkan.
Jelas, Bex tidak ingin segalanya terlalu mudah. Seperti ketika ia merengek ke orangtuanya di masa kecil dulu. Ini bukan lagi permen, balon, atau game di timezone. Ini masa depannya. Jadi ia yang akan memutuskan langkahnya. Meski kebingungan tapi Bex, ia tahu, seharusnya menikmatinya. Ini perjalanannya, petualangannya.
Siapa tahu rejeki kita disana. Bex tersenyum, dan tidak ragu lagi menjalani hari itu. Teman memang selalu menginspirasi.
Wednesday, September 30, 2009
Ramaya Ballet and Our Life Drama
Itu sungguh hal yang melegakan, ketika saya berhasil menggali ingatan2 itu kembali. Karena ternyata ingatan itu sudah terkubur sedemikian dalam. “Kok, mbak Ulin masih ingat sih?”
Ternyata sejak dulu, sejak kecil, saya mencintai epos2 ini, semacam perang Mahabarata… Para Pandawa versus Kurawa, padang Kurusetra, kecantikan Drupadi, pengorbanan Abimanyu…
Anak2 sekarang, entah masih kenal atau tidak ya, dengan tokoh2 wayang itu? Karena saya rasa, saya saja banyak yang lupa. Mungkin jika saya tidak pernah menyaksikan sendratari ini, saya juga sudah melupakan Sri Rama dan Laksmana, adiknya. Apa mereka juga punya tokoh wayang favoritnya?
Hal ini pasti tidak lepas dari peran orangtua, terutama ibu, yang tak segan membelikan saya banyak buku untuk saya lahap saat saya sedang haus2nya akan ilmu pengetahuan. Saat itu otak saya sedang bekembang pesat, akson2nya sedang membuat jalinan yang rumit, yang tak kan tumbuh lagi di usia saya yang selanjutnya menginjak remaja dan akhirnya dewasa.
Selain wayang, saya juga menyukai cerita rakyat daerah seperti Timun Mas, Aji Saka, Loro Jonggrang. Tapi tak hanya itu, sebenarnya saat itu saya juga penggemar berat kisah dewa dewi Yunani, dongeng karya2 Hans Cristian Anderson, cerita2 Disney. Di fase yang selanjutnya, kegemaran saya kemudian merambat ke novel2 detektif macam Lima Sekawan, hingga ke sastra Islam yang sedikit banyak mempengaruhi perkembangan saya melalui masa2 kritis, masa remaja.
Kembali ke Ramayana. Kisah yang dipahat di dinding Prambanan dan kemudian menjadi sendratari ini juga tidak semata bercerita tentang tiga tokoh, Sri Rama, Rahwana, dan Dewi Shinta, meski mereka pemeran utamanya. Di dalam jalinan ceritanya juga terdapat pertikaian antara Subali dan Sugriwa, pengorbanan sang Garuda Jatayu, keberanian sekaligus kelembutan Tijata. Yang membuat cerita itu lebih hidup dan lebih nyata, bahwa dalam kehidupan kita , keberhasilan kita, pasti ada peran2 orang2 lain di dalamnya. Kadang prasangka membuat kita gelap mata, seperi ketika Sri Rama hampir menuduh Jatayu menculik Dewi shinta. Kadang nafsu kita yang mengangkasa, selain layaknya Rahwana, juga nafsu kecil seperti saat Shinta menginginkan kijang emas hingga suaminya rela mengejarnya.
Cerita ini ternyata sangat unik jika dilihat masing2 sisi2nya satupersatu. Saya seperti sedang bercermin di air yang bening. Sambil mengagumi budaya nusantara, saya juga berkaca diri. Siapa saya dalam kisah itu? Apakah saya sudah seperti tokoh favorit saya?
Oya, tokoh favorit saya adalah Laksmana, tau kenapa…? ;)
Saturday, May 16, 2009
God is a director
***
Kabar bahagia itu telah menyebar, sepanjang lorong rumah sakit, sepanjang dinding2nya yang –katanya sanggup ’berbicara’. Bahwa beberapa kakak2 kelas kami, teman2 coass yang telah lulus setahun lebih dulu dari kami, diterima sebagai residen.
Ucapan selamat berhamburan. Aku beruntung dapat menemui langsung salah seorang diantaranya pada suatu sore di akhir pekan yang tidak begitu sibuk.
Satu langkah lagi kesuksesan setelah gelar dokter itu. Lalu apa arti kemenangan ini baginya?
Ia, mungkin satu atau dua tahun usianya di atasku, menjelang seperempat abad hidupnya, tersenyum cerah dan bersemangat membagikan ceritanya.
Ada beberapa ujian yang harus dilewati dalam penerimaan PPDS (program pendidikan dokter spesialis) ini. Diantaranya adalah tes teori tertulis, tes kesehatan, psikologis, dan wawancara. Dari 31 pendaftar, ia lolos menjadi 21 orang terpilih dan akan mengikuti penyaringan berikutnya. Dalam tes kesehatan, sebagai bukan tipe orang sakit2an dan gadis baik2, ia merasa cukup percaya diri dan tak perlu ada yang dikhawatirkan. Namun Sang Sutradara berkata lain, karena justru dari sanalah segalanya dimulai.
Saat dilakukan pemeriksaan, ternyata hasil EKG-nya ada T inverted pada 3 lead dan RBBB (righ bundle branch block), tanda dari iskemik anterior. EKG atau elektrokardiografi adalah alat rekam aktivitas listrik jantung, dan karena terdapat gelombang abnormal itu, dokter ahli jantung senior yang memeriksanya segera menyuruhnya melakukan ekokardiografi, sebuah pemeriksaan lebih teliti yang dapat melihat anatomi jantung seperti pada USG.
Ternyata dari hasil eko-nya, terdapat gambaran MVP atau prolaps katup mitral. Merasa tidak pernah ada keluhan, ia pun meminta second opinion ke dokter jantung lain. Setelah diperiksa, hasil EKG-nya malah lebih parah, ada pergeseran aksis ke kanan. Dan ia pun di eko ulang. Tak disangka sang dokter malah meyebutkan bahwa ada gambaran ASD, namun kemudian diagnosis berubah lagi, VSD, sebuah defek septum ventrikel, atau dalam bahasa
awam disebut kebocoran jantung. Dengan diagnosis seperti itu, dia disarankan segera operasi, sebelum penyakitnya menimbulkan gejala dan bertambah parah.Terang saja ia kemudian kaget setengah mati, orang sehat tanpa keluhan apa2, tiba2 harus menjalani operasi bedah jantung! Sampai menangis2 berpelukan dengan sahabat yang mengantarnya, dengan hati berat ia pun memberitahu orangtuanya. Sudah tidak terpikirkan lagi apakah ia akan diterima PPDS atau tidak. Baginya, jika jalan itu memang demikian yang terbaik untuknya, pasti itu yang Allah akan berikan padanya, jika tidak, mungkin ada hal lain yang lebih baik yang ingin Allah berikan.
Rencana operasi jantung akan dilaksanakan di sebuah RS terkenal di Jakarta. Sampai disana, profesor yang menemuinya pertama kali sungguh terkejut mendengar riwayatnya. Sangat jarang ada kasus seperti itu, ujar beliau. Maka sang profesor melakukan pemeriksaan fisik seperti yang biasa dilakukan ahli sepertinya. Tidak ditemukan bising apapun, padahal seharusnya VSD berbising sangat jelas. Ia pun diminta eko ulang sebelum operasi.
***
Mungkin aku sedang bertanya2 saat itu, kenapa acara ’kumpul2’ kami yang seharusnya rutin tiap minggu itu tidak kunjung diadakan. Rupanya, ia sedang di Jakarta saat itu. Sibuk dengan keputusan Tuhan akan hidupnya yang tiba2 saja berubah 180 derajat.
Namun hari ini ia kembali berkumpul dalam lingkaran bersama kami, menceritakan kisahnya untuk diambil hikmah dan pelajaran. Tak ada operasi, tak ada VSD, tak ada ASD, yang ada hanya MVP ringan dan dia diterima sebagai residen tanpa rasa bangga berlebihan.
Betapa mudah Sang Sutradara itu merubah nasib manusia. Betapa doa yang kita panjatkan tidak pernah akan sia2. Betapa prasangka baik, akan selalu membawa kita lebih banyak pada kebaikan. Dan betapa Ia sesuai dengan prasangka hambaNya.
Monday, April 6, 2009
For The Miracle of Marine

Kakak tolong!!! Aku dikeroyok!!!
Kenapa daging babi haram, Kak?!
Tulisan itu seperti tulisan mesin ketik.
Singkat, padat, layaknya pesan S.O.S.
Dikirim dari ratusanribu kilometer di tengah samudra tanpa sinyal komunikasi.
Ican. Satu nama itu langsung hadir di benak
Ican yang dikeroyok, dipukuli, dijejali babi! Pikiran itu memenuhi kepala
“Kamu minum, Can?!” suara
“Ya, enggak lah. Ican semburin. Tau deh, ada yang masuk atau enggak!” suara Ican diseberang
“Rasanya apa?”
“Pedes, pahit, panas, hu uh!”
“
Respon dari beberapa teman berdatangan, “Aku punya file-nya, Fa!”
Ican, beneran kamu dikeroyok?!
***
Sebenarnya aku ingin bertanya; keyakinan macam apa itu? Maksudku, bagaimana ia, juga Ican dan kedua orangtuanya yakin bahwa inilah jalan yang terbaik? Yang paling aman, dengan iman sebagai taruhannya?!
Aku ingin bertanya dengan keraguan macam itu. Namun kemudian urung. Karena pada kenyataan Ican bisa bertahan (dan semoga) hingga akhir.
Jika tidak ada yang memulai seperti dirinya. Jika tidak ada muslim yang kuat islamnya, yang berani mengambil langkah menembus batas samudra, berlayar di kapal besar kelas dunia, lalu siapa yang akan menjadi nahkoda pengendali kapalnya?
Teriring doa untuk mereka, the miracle of marine.
Kenapa babi haram?
“Kenapa babi haram?”
“Sebab diharamkan di Al-Qur’an, dan Al-Qur’an adalah pegangan hidup seorang muslim.”
“Ya, saya tahu, tapi kenapa?”
Mendadak ia merasa bodoh. Mendadak, tapi sebenarnya tidak juga, ia pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya, beberapakali, dan ia masih saja tak mengerti.
Jika baginya sendiri, jawaban itu cukup. Sederhana dan masuk akal. Ia muslim, ia meyakini Al-Qur’an, dan ia melaksanakannya, toh masih banyak makanan yang halal juga. Tapi mungkin masalahnya tidak sesederhana itu bagi orang lain, apalagi bagi seorang teman yang bukan muslim. Penasaran. Ia jadi ikut penasaran dan mencari jawabannya. Kali ini yang seilmiah mungkin, masuk logika manusia, dan bisa dijelaskan.
“Setidaknya ada tiga hal,” dalam sebuah diskusi kelompok kami bersemangat membahasnya. “Pertama, DNA babi mirip dengan DNA manusia.”
Ya, ya, dia sudah tahu itu. Ia tahu benar itu. Makanya banyak bagian dari babi yang digunakan pada, misalnya, pembuatan insulin, atau transplant, mengurangi suatu reaksi penolakan imunologis.
“Padahal
“Yang kedua, babi itu tidak punya leher, padahal kita diperintahkan untuk menyembelih hewan dibagian lehernya.”
Benar juga, seumur2 tidak pernah lihat leher babi, hihihi…
“Selanjutnya mari kita misalkan dalam 1 kandang kita masukkan dua babi jantan dan satu babi betina, di kandang yang lain kita masukkan dua ayam jantan dan dua ayam betina. Maka apa yang terjadi?”
Alasan yang ketiga ini membuat kami menebak-nebak.
“Kalau ayam jantan mereka akan memperebutkan yang betina menjadi pasangannya, dan ayam jantan itu tidak akan membiarkan pasangannya atau si ayam betina itu diganggu oleh ayam jantan lainnya.”
“Sedangkan pada dua babi jantan itu, mereka malah akan bergantian berhubungan dengan yang betina. Dan Islam menghindari sifat yang seperti itu!”
Saturday, March 14, 2009
Pilihan
Ia menikah beberapa tahun lalu, saat usianya seusiaku. Memilih jalan yang tidak banyak orang pilih: menikah saat koass, dijodohkan, asing dengan calon pasangan yang berjarak usia hampir 1 dekade, namun kemudian… bahagia.
Alangkah mirip wajah putranya yang kini berusia 2 tahun. “Sedang lucu2nya ya…!” seruku antusias saat ia memulai ceritanya. Cerita yang ternyata tidak selalu bahagia.
Umurnya, mungkin hanya berselang 2 atau 3 tahun denganku. Namun kematangan tidak hanya hadir pada penampilannya yang senantiasa rapi bermake-up, tapi juga dari sekian pilihan dalam hidupnya. Pernikahan dininya, kepergiannya PTT ke luar pulau, dan kini meninggalkan putra semata wayangnya untuk melanjutkan studi. Pilihan itu, aku tahu tidak mudah. Sekilas, kutangkap sedih yang berkelebat meski samar.
Ia menunjukkan padaku foto lelaki kecil itu di mobile phone-nya. Buah cintanya. Tampak sehat dan menggemaskan. “Dalam sehari ia bisa menghabiskan 8 botol susu, dan itu pun botol yang besar!”
Kubiarkan ia bertutur mengenai cintanya, kerinduannya. Malam itu, bukankah seharusnya seorang ibu ada di samping putranya? Membacakan bocah balita itu buku bergambar kesayangannya, mengajarinya doa sebelum tidur dan doa untuk kedua orangtua, lalu menyelimutinya ketika lelap dan mencium hangat keningnya hingga bocah iu merasa aman, dipenuhi kasih saying ibunya. Tapi sekali lagi, ini pilihannya, pilihan yang memilikki risiko yang tidak mudah bagi ibu muda sepertinya..
“Aku sempat sakit hati,” kelebat itu datang lagi. Saat studinya menuntut ia untuk membawa tugas-tugas ke rumah, dengan marah lelaki kecil itu menolak dirinya. Mungkin lelaki kecil itu sudah lebih dulu saki hati. “Aku nggak mau tidur sama mamah! Kalo mamah masih bawa-bawa buku, aku tidur sama mbak aja!”
Tergantikan. Perannya tergantikan untuk pilihan perannya yang lain. Apakah memang harus memilih satu dan tidak boleh dua? Apakah totalitasnya sebagai ibu harus dipertanyakan jika ia juga berkarier di luar rumah?
Itu adalah pilihannya. Sama ketika dulu ia memilih untuk menikah muda, ketika ia pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Itu adalah perjuangannya. Hanya ia yang tahu persis bagaimana bentuk kebahagiaanya, dan bagaimana bagian sedih itu menjadi pelengkapnya.