Thursday, August 27, 2009

100 Hari Bunda

Apa yang kamu lakukan kalau kamu ingat bunda?
Kamu dapat bersegera ke dapur dan menemuka
nnya sedang memasak masakan kesukaanmu
Atau mungkin kamu langsung mengangkat telepon
dan mendapati suaranya ceria menyambutmu segala ceritamu
Atau mungkin bagi yang tinggal di luar kota, kamu akan segera pulang dan mendapatinya membukaan pintu untukmu tak peduli jam berapapun itu


Apa yang kamu lakukan kalau kamu rindu bunda?
Kamu mungkin akan mengirimkan karangan bunga
terindah beserta surat rindumu
Atau kaumu juga dapat memesan kue kesukaannya dan membawakannya langsung ke hadapannya
Atau kamu senang melukis, dan menggambar foto dirinya lalu memberikan kepadanya ditambah kecupan mesra


Apa yang kamu lakukan kalau kamu merasa bersalah pada bunda?
Kamu bisa segera meminta maaf padanya, mencium t
angannya, atau berlutut di hadapannya, dan ia akan tersenyum memaafkanmu tanpa diminta dua kali
Atau kamu dapat meneleponnya, mengiriminya sms, dan segera mendapatkan sambutan hangat darinya, tanpa rasa dendam sedikitpun.
Atau jika kamu malu dan keras kepala sekalipun, kam
u bisa memberitahu adik atau kakakmu, dan malah bunda yang akan menghampirimu, mengunjungimu, dan menanyakan kabarmu




Dulu, aku pikir aku bisa melakukannya. Akan selalu bisa melakukannya. Dulu aku pikir, setiap aku pulang, yang membukakan pintu itu akan selalu wajah yang sama, yang menjawab telepon ke nomor itu adalah suara yang sama.


Dulu, kau tak pernah menyangka, ’ancaman’ di acara muhasabah agar kita bersegera meminta maaf pada orangtua kita itu, kini menjadi kenyataan dalam hidupku. Karena nyatanya sekarang aku tidak bisa berbicara langsung padanya, mencium tangannya, memeluk dirinya, bersimpuh di hadapannya, meminta maaf atas semua salahku padanya, berterimakasih atas semua yang telah ia korbankan untukku.


Jadi apa yang harus aku lakukan saat aku ingat bunda, saat aku rindu padanya, atau saat perasaan bersalah itu datang?