Tuesday, February 17, 2009

Too much


 

Kadang kita butuh kebahagiaan, dan bentuk kebahagiaan itu adalah kebahagiaan orang lain.

 

***

 

Hari ini KPS kami resmi berganti. Dokter Kris secara simbolis menyerahkan setumpuk buku pada dokter Bantar, dan dua kotak roti secara simbolis untuk kami :P

Kata temanku ia terharu karena merasa dipercaya. Sementara aku juga terharu, lebih karena kata2 dokter Kris saat memberi pesan pada penggantinya setelah puluhan tahun memegang tanggungjawab itu.

“Suatu saat mereka,” beliau menatap kami, “Akan menjadi orang yang akan kita temui di tempat yang tidak kita sangka-sangka.”

Tempat yang tidak disangka? Suatu saat?

“Seperti saya juga tidak menyangka bahwa saya akan melakukan kunjungan rumah pada guru saya untuk memeriksanya,” lanjutnya tenang, “Kita suatu saat akan datang kepada mereka. Mungkin dengan keluhan…”

 

***

 

Ini hanya sebuah siklus dunia. Dimana kami berada di dalamnya. Hanya masalah waktu. Namun dapatkah kami memanfaatkan sebaik2nya? Hingga suatu saat kami juga dapat mempersembahkan yang terbaik.

 

Soliter atau mandiri?


 

Dua kata itu sebenarnya saling berhubungan tidak sih?

Orang yang soliter pasti mandirikah? Atau haruskah orang menjadi soliter dulu agar bisa mandiri? Karena rasanya seperti dilema. Kalau kita terbiasa bersama2, sendiri rasanya menjadi aneh dan tidak menyenangkan. Tapi jika kita terbiasa sendiri, kalau harus melakukan apa2 sendiri ya fine2 saja kan.

Tapi haruskah?

Semakin kita dekat dengan seseorang bukankah kita semakin bergantung pada orang itu. Untuk hal2 kecil saja. Pasti akan merasa kehilangan dia jika dia tidak ada padahal biasanya ada.

Fyuh, untung bukan hal2 besar. Aku merasa mulai dependen. Mulai merasa takut saat dia tidak ada. Mulai merasa aku tidak sanggup, dan kehilangan.

Aneh deh. Sudah lama banget rasanya tidak seperti ini. Dan aku tidak suka. Inginnya aku mandiri, tapi tidak jadi soliter. Tapi gimana?

Seharusnya kita bisa membedakan keduanya, kapan kita harus melakukan segalanya sendirian, dan kapan kita memang harus mengajak orang lain terlibat dalam hidup kita.

Mungkin aku tidak terlalu ahli dalam hal itu, jadinya daripada menyebalkan seperti ini aku pilih soliter untuk mandiri. Entah sampai kapan. Sampai ada orang yang bisa membuatku tak soliter tapi tetap mandiri.

Adakah?

Sepertinya itu lebih tergantung padaku, bukan padanya

Thursday, February 12, 2009

Februari Tahun Depan


 

Bayang2 itu tampak indah. Bayang2 akibat cahaya lilin di sebuah lorong rumah sakit yang sepi. Dengan mendadak, seperti dikomando, suasana menjadi ramai, riuh, penuh ucapan selamat, kebahagiaan.

Dan itu untukku.

Maka sebelum kutiup lilinnya, ijinkan aku mendoakan kalian semua, teman-teman. Kuharap kebersamaan kita tidak sia2. Sebab Februari tahun depan, aku tahu, tidak akan mungkin sama seperti ini lagi...

 

 

Tuhan memenuhi janjiNya


Seperti dulu ketika aku memohon2 dengan sangat supaya aku bisa nyetir mobil sendiri. Dia bilang Dia akan selalu mengabulkan permohonan hambanya. Dan aku telah membuktikanya. Dia benar mengabulkannya. Beberapa tahun kemudian (meski harus beberapa tahun), aku bisa bawa mobil sendiri. Mungkin Dia sedikit menundanya, dalam beberapa tahun itu, agar aku lebih matur, agar aku tahu bagaimana rasanya memohon, dan agar aku selalu ‘bicara’ dengan-Nya.

Itu persis, persis sekali dengan sekitar 6 tahun yang lalu, ketika aku memohon di sepertiga malam, agar dipilihkan universitas yang terbaik. Dalam hati aku mengeluh di Jakarta. Aku memimpikan tempat yang lebih lapang agar aku bisa bergerak lebih bebas. Lalu saat pengumuman SPMB tiba, aku benar2 tidak diterima di UI, pilihan  pertamaku, tapi di Semarang, kota kelahiranku. Dia benar2 tahu, dan seperti namaNya, Dia memenuhi janjiNya.

Tampaknya wajar jika semua itu terjadi, semua permohonan itu terkabul, saat aku benar2 berinteraksi intens denganNya. Namun ternyata itu semua tidak hanya terjadi ketika kami benar2 dekat. Sempat aku merasa jauh. Jelas bukan karena Dia, tapi karena aku. Saat itu aku juga memohon dalam kesempitanku. Sempat aku berpikir, wajar saja jika Dia tak peduli padaku, karena aku juga bersikap tak peduli padaNya. Tapi mungkin karena terpaksa, aku memohon juga. Aku tak berharap banyak dikabulkan kali ini, tapi aku tetap berharap karena setahuku, setahuku Dia Maha Mendengar, Dia Maha Pengasih, dan Dia Maha Menepati Janji. Kemudian aku melihat bagaimana doaku perlahan-lahan dikabulkan. Tidak mudah, tapi aku dapat merasakan ‘tangan’Nya mengatur semua itu. Luwes dan indah sekali. Lagi, Ia menepati janjiNya, meski saat aku tak menepati janjiku.

 

***

 

Maafkan aku.

 

***

 

Tuhan memenuhi janjinya, jika ada yang ingkar, itu kita, dan entah kenapa Ia tetap memenuhi janjinya.

Tuesday, February 10, 2009

Baca BGA


BGA (blood gas analysis) atau analisa gas darah adalah pemeriksaan untuk menentukan keadaan gagal nafas dan evaluasi gangguan asam-basa tubuh

Sampelnya diambil darah arteri. Bersama dengan sampel disertakan pula catatan mengenai suhu tubuh penderita dan apakah dalam terapi oksigen.

Hasil pemeriksaan BGA biasanya tertera sbb:

Temp:adalah temperatur tubuh

FiO2: konsentrasi O2 pada lingkungan, normal 21%, jika penderita memakai nasal kanul atau masker oksigen, berarti konsentrasinya lebih dari itu

PH: normal 7,35-7,45. Jika kurang dari itu berarti asidosis, jika lebih berarti alkalosis, jika dalam rentang itu kemungkinannya bisa memang normal atau abnormal, makanya lihat BE (base excess)

Base excess: normal + 3. Jika lebih (-) berarti asidosis. Selanjutnya lihat HCO3 dan PCO2-nya.

 

Asidosis

 

HCO3

PCO2

PH

Metabolik

Tak terkompensasi

N

 

Terkompensasi sebagian


 

Terkompensasi sempurna


N

 

Alkalosis

 

HCO3

PCO2

PH

Metabolik

Tak terkompensasi

N

 

Terkompensasi sebagian


 

Terkompensasi sempurna


N

 

Untuk yang respiratorik, prinsipnya juga sama.

Semoga bermanfaat.

Wednesday, February 4, 2009

Pasien Favorit

Seperti layaknya kita punya dokter favorit, rasa2nya dokter juga bisa punya pasien favorit. Dan aku juga punya...

 

Macam2 pasien di bangsal itu. Bukan hanya beragam penyakitnya, tapi beragam pula caranya menanggapi penyakit itu sendiri. Kebanyakan sih sekarat, melas, dan tidak punya gairah hidup. Tapi tidak semuanya. Ada pasien yang bisa tersenyum ikhlas walau diperiksa berulang2 kali, mengajak pasien lainnya ikut tersenyum dan optimis, atau bahkan satu bangsal jadi tertawa terbahak2 karena ulahnya walau sebenarnya dia sendiri sedang dalam pengawasan ketat.

 

Pasien favoritku yang selalu tersenyum, jangan dibayangkan orangnya rapi dan ‘enak dilihat’, rambutnya selalu acak2an sama seperti bajunya yang kumal, karena penyakitnya maka perutnya terlihat membesar. Tapi entah kenapa setiap ditanya ia selalu optimis, “Yang memberi kesembuhan itu gusti Allah tho, Dok...” ujarnya disela2 pemeriksaan rutin yang kulakukan. Belakangan ia dipindah dari bangsal penyait dalam ke bedah. Aku menyalaminya. Meski tanpa ada anggota keluarganya yang menunggui dan masih mengantri jatah operasi, ia manjalaninya tanpa banyak mengeluh.

 

Semoga cepat sembuh ya bu, tetap ceria, dan terimakasih telah memberi banyak ilmu pada kami.