Friday, May 29, 2009

Mimpi

Kata seorang sahabat, mungkin aku perlu menuliskan mimpi2 ku, sejak mimpi2 seringkali mengungkapkan perasaan yang coba kututup-tutupi, kekhawatiran yang kuindahkan, dan kesadaran di alam bawah sadarku. Jadi aku memutuskan untuk menuliskannya kini, setelah lama pembicaraan tentang itu berlangsung. Mungkin ada baiknya, berusaha menyadari apa yg aku tahu tapi tidak aku sadari, atau mengetahui apa yg kucoba sembunyikan dari diriku sendiri.


Mimpi tidak pernah bercerita setiap detailnya. Namun kadang ada bagian2 yg begitu membekas, yg sangat mendetail, dan mungkin itu adalah bagian yg penting yg coba disampaikan dalam suatu rangkaian peristiwa yg coba kita pahami seperti peristiwa di dunia nyata. Sehingga, kadang yg tersisa dari ingatan kita tentang mimpi itu adalah berupa potongan2, kelebatan2, kadang terasa seperti de javu, sesuatu yang ‘hey, aku pernah merasakan ini sebelumnya!’ Merasakan, bukan mengalami. Atau mengalami suatu perasaan yg sama, tapi bukan mengalami kejadian yg sama.


***


Aku berada di tempat tidurku, selesai ujian dimana aku merasa aku tidak diuji. Dalam ujian lisan itu kami berdua, aku dan seorang teman lelaki, siapa orang ini tidak begitu jelas. Ia terus ditanya oleh penguji kami, dan aku merasa bisa menjawabnya seperti ketika aku membaca buku catatan. Jadi aku berusaha menjawabnya, tapi yg ditanya terus adalah dia bukan aku. Hingga ia selesai ditanya, aku tahu sekarang giliranku tapi aku takut sudah tidak dapat menjawab karena pertanyaan yang bisa kujawab sudah diajukan semua. Namun, ujian selesai begitu saja, aku tidak ditanya. Pikirku, mungkin karena pada 2 ujian sebelumnya aku sudah mendapat pertanyaan dari penguji2 lain yg sulit. Jadi disitulah aku, di kamarku. Bukan kamar yg kini kutempati, atau kamarku di Jakarta. Melainkan di kamar rumah masa kecilku.

Ada yg mengetok pintu, dan kemudian orang itu masuk. Mommy. Mom melihat ke atas ke arah AC yang ternyata mati, dan berkata, ”Disini anget juga.” Lalu mom ingin tidur ditempat tidur di sampingku, tempat yg biasanya ditempati adikku. Kulihat adikku sudah tidur di lantai di bawahku. Aku sangat bersyukur karena aku memakai piyama yg pantas dan sprei tempat tidur baru saja diganti serta masih rapi.

Aku memandangi mom yg kurus di sebelahku, menanyakan padanya, ”Kenapa tdk pernah dirasakan?” Aku bertanya tentang penyakitnya, menatap lehernya.

Mom memintaku menggosok lehernya dg semacam minyak, aku melakukannya dan mom menjawab. ”Ibu ini kuat, seperti laki-laki. Buat apa dirasa-rasakan, budhe juga bilang begitu kan?” Aku tidak ingat detail kata2nya, tapi kira2 seperti itu.

Kemudian memori itu menyergapku, membuatku berpikir, bahwa mungkin pada awalnya mom memang tidak merasakan, tapi kemudian sebenarnya ia telah pergi ke dokter. Bukan hanya ke 1 dokter tapi ke banyak dokter. Namun penyakit itu baru diketahui kira2 6 bulan setelah ia pergi ke dokter. Terlambatkah diagnosis dokter itu, hingga saat diketahui sudah stadium 3? Tapi bisa saja dokter tidak terlambat diagnosis, karena mom memang sudah disarankan biopsi namun ia menolaknya untuk beberapa lama, salahkah dia? Mom bukan org medis meski kini 3 anggota keluarganya adalah org medis. Jika demikian, mungkinkah ini kesalahan kami, keluarganya???


***


Aku tersadar dengan pikiran itu masih menggelantung di kepalaku. Tidak ingat antara batas tidur dan bangun karena, aneh sekaki bukan, orang berpikir dan melakukan analisis di dalam mimpi? Batas antara realita dan mimpiku semakin tak jelas. Batas antara alam sadar dan tidak sadar bahkan tak kumengerti. Semuanya meluap ke permukaan jika aku berada di alam bawah sadarku, membawakan kesadaran baru pada alam sadarku. Dan kemudian, di sisa hari itu aku menangis sampai puas sebelum aku akhirnya bersujud, menyerahkan segala kegundahanku padaNya, Sang Pemilik jiwa.

Tuesday, May 19, 2009

Kesedihan Dalam Hitam dan Putih

Hari ini aku melihat kesedihan dalam bentuk yang lain, dengan warna yang lain, yang hanya terdiri dari dua pilihan, hitam atau putih.

Anda yang pernah belajar anatomi tentu mengerti apa arti warna2 itu pada kertas karbon yang terpapar sinar-x. Bentuk dari kedua warna itu hanyalah bukti. Bukti kecil akan kelemahan manusia, bukti akan kekuasaan Tuhan, dan bukti bahwa kesedihan itu tidak memilah-memilah pada apa dan siapa. Teman sejawat yang baik juga bisa kena, seorang dokter senior, bahkan seorang direktur rumah sakit.

Apa itu lebih menyedihkan dari kasus2 yang terjadi pada pasien jamkesmas?
Itu hanya agak lebih ironi. Agak lebih menyentakku. Mengingatkanku sekali lagi, bahwa kita tetap bukan siapa2, jika berhadapan dengan kuasaNya.


***


Sayang disini tak bisa dicantumkan foto hasil sistografi pasien mengingat rahasia medis dan masalah etik. Foto ini adalah sistogram normal, untuk gambaran saja.

Pemeriksaan sistografi adalah salah satu pemeriksaan pencitraan, seperti yang telah disebutkan tadi, menggunakan sinar-x. Tujuannya tercermin dari namanya, menggambarkan anatomi vesika urinaria atau kandung kemih. Dari sana kita dapat melihat berbagai kelainan. Misalnya fistula (saluran yang menghubungkan dua rongga yang sudah ada di dalam tubuh), sistitis (radang pada kandung kemih), atau refluks vesikouretra (pembalikan arah aliran kemih). Pemeriksaan ini menggunakan zat kontras yang dimasukkan ke dalam kandung kemih agar kandung kemih dapat terlihat. Zat kontras tersebut dimasukkan melalui uretra atau saluran kemih dengan menggunakan kateter.

Bukan pemeriksaan yang menyenangkan kedengarannya. Dan tidak mudah juga karena butuh kerjasama yang baik dengan pasien. Kadang dibutuhkan foto RLD (pasien miring ke kanan) atau posisi2 lainnya.

Pasien ini pasien Garuda, kelas terbaik di rumah sakit ini. Jika biasanya koass diperbolehkan masuk untuk membantu persiapannya, kali ini aku cukup senang hanya melihat dari balik kaca ruang operator tanpa terpapar sinar radiasi. Jika biasanya ruangan operator itu lengang, saat itu kami berdesakan. Supervisor kami turun langsung, otomatis lebih banyak residen dan koas yang penasaran. Sebelumnya sempat ku lihat status pasien ini, riwayat penyakitnya, hasil labnya, tak lupa identitasnya. Dan itulah yang menarik, pasien kami bukan pasien biasa, selain pasien VIP, riwayat penyakitnya yg panjang dengan catatan medik setebal itu, ia juga seorang dokter.
Saat kontras masuk, dan gambar mulai di ambil, kami dapat melihat ada yang tidak beres dengan warna putih yang seharusnya merata berbentuk bulat khas kandung kemih. Ada warna putih yang keluar dari batas itu, bukan hanya di satu sisi tapi juga di sisi lain, kanan, kiri, belakang, terlalu banyak kontras yang keluar ke ruang intraperitoneal.

“Apa itu? Fistel?” bisik temanku. Aku diam karena tak yakin.

Foto diambil dari berbagai posisi sehingga dapat dilihat dengan jelas (dengan dua warna itu saja, hitam dan putih) apa yang terjadi pada kendung kemih sang pasien. Lalu diskusi kecil di ruang operator itu menyimpulkan satu hal: ruptur kandung kemih.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kok bisa? Seorang dokter, seseorang yang tentu sangat mengerti apa itu ruptur kandung kemih, bahkan ternyata seorang direktur rumah sakit, mengalami hal se“mengerikan” itu???


***


Siangnya, residen yang menangani kasus itu kebingungan menulis apa dan akan meminta pengesahan pada siapa. Dua dokter spesialis senior yang ada saling lempar tentang siapa yang akan menandatangani hasil pemeriksaan itu.

Sementara aku masih terdiam, menyaksikan ironi kehidupan, yang perlahan menelusupkan kesedihan, namun juga sekaligus kesadaran. Kita memang bukan siapa-siapa.

UntukMu, Tujuanku

Tuhan sayang, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang... aku berjalan tertatih2 menujuMu. Sangat lambat sampai kadang aku lupa atau bosan. Lalu kemudian Kau beritahu aku dg caraMu, agar aku bersegera, karena waktuku tak lama tersisa.

Di suatu saat, aku melihat oase dan ingin pergi ke sana. Tapi Kau segera menarikku, sedikit membentakku, dan menyadarkanku bahwa itu hanya fatamorgana. Kau ingatkan aku akan janjiMu, sekaligus Kau juga ingatkan aku pada janjiku.

Di jalan itu kadang aku mengeluh kelelahan, mengeluh kehausan, padahal sebenarnya aku cuma malas. Aku lupa kalau aku masih punya nafas, masih punya mata, masih punya kaki untuk melangkah, dan semua itu pemberianMu, tujuanku.


Di suatu fajar aku melihat matahari, aku pikir aku masih bisa melihatnya esok lagi, jadi kuindahkan saja perasaan takjub itu, dan sibuk dengan urusan duniaku.

Di suatu persimpangan aku melihat anak2 jalanan, mengemis, menengadahkan tangan, tapi aku pikir itu hanyalah simbol ekonomi semata, jadi tak kuanggap mereka ada, yang penting aku cukup berada.

Lalu, di sebuah sudut bangsal, aku bersemangat memeriksa orang2 yg sedang kesakitan, mendapatkan ucapan terimakasih yang sebenarnya harus kuucapkan, tapi semua itu kulakukan demi nilai dan laporan belaka, tak berpikir bahwa suatu saat bisa saja aku di posisi mereka.

Dan ketika malam mendera, bintang2Mu bermunculan di langit yg kelabu, aku pulang, kelelahan, mengantuk, dan terlelap, lupa bahwa aku belum menghadapMu, melaporkan rincian kesalahan dan dosaku hari ini, padahal Kau selalu akan mengampuni, jika saja aku mau sedikit memohon.


Salahkah aku, jika di malam yang lengang ini aku benar2 ingin pulang? MengharapMu berkenan memelukku, dan tak lagi melepaskan. Bimbing aku dijalan itu ya Tuhan, jalanMu, menujuMu, tujuanku. Maafkan aku..

Saturday, May 16, 2009

God is a director

God is a director, film cin(T)a bilang begitu, dan aku masih menjadi saksi dalam putaran kisah2 nyata orang2 di sekitarku, yang dituturkan atau yang kusaksikan. Semuanya seolah tetap sama, namun sungguh sebenarnya akan menambah keimanan, jika kita ingat siapa sutradaranya.

***

Kabar bahagia itu telah menyebar, sepanjang lorong rumah sakit, sepanjang dinding2nya yang –katanya sanggup ’berbicara’. Bahwa beberapa kakak2 kelas kami, teman2 coass yang telah lulus setahun lebih dulu dari kami, diterima sebagai residen.

Ucapan selamat berhamburan. Aku beruntung dapat menemui langsung salah seorang diantaranya pada suatu sore di akhir pekan yang tidak begitu sibuk.

Satu langkah lagi kesuksesan setelah gelar dokter itu. Lalu apa arti ke
menangan ini baginya?

Ia, mungkin satu atau dua tahun usianya di atasku, menjelang seperempat abad hidupnya, tersenyum cerah dan bersemangat membagikan ceritanya.

Ada beberapa ujian yang harus dilewati dalam penerimaan PPDS (program pendidikan dokter spesialis) ini. Diantaranya adalah tes teori tertulis, tes kesehatan, psikologis, dan wawancara. Dari 31 pendaftar, ia lolos menjadi 21 orang terpilih dan akan mengikuti penyaringan berikutnya. Dalam tes kesehatan, sebagai bukan tipe orang sakit2an dan gadis baik2, ia merasa cukup percaya diri dan tak perlu ada yang dikhawatirkan. Namun Sang Sutradara berkata lain, karena justru dari sanalah segalanya dimulai.

Saat dilakukan pemeriksaan, ternyata hasil EKG-nya ada T inverted pada 3 lead dan RBBB (righ bundle branch block), tanda dari iskemik anterior. EKG
atau elektrokardiografi adalah alat rekam aktivitas listrik jantung, dan karena terdapat gelombang abnormal itu, dokter ahli jantung senior yang memeriksanya segera menyuruhnya melakukan ekokardiografi, sebuah pemeriksaan lebih teliti yang dapat melihat anatomi jantung seperti pada USG.

Ternyata dari hasil eko-nya, terdapat gambaran MVP atau prolaps katup mitral. Merasa tidak pernah ada keluhan, ia pun meminta second opinion ke dokter jantung lain. Setelah diperiksa, hasil EKG-nya malah lebih parah, ada pergeseran aksis ke kanan. Dan ia pun di eko ulang. Tak disangka sang dokter malah meyebutkan bahwa ada gambaran ASD, namun kemudian diagnosis berubah lagi, VSD, sebuah defek septum ventrikel, atau dalam bahasa
awam disebut kebocoran jantung. Dengan diagnosis seperti itu, dia disarankan segera operasi, sebelum penyakitnya menimbulkan gejala dan bertambah parah.

Terang saja ia kemudian kaget setengah mati, orang sehat tanpa keluhan apa2, tiba2 harus menjalani operasi bedah jantung! Sampai menangis2 berpelukan dengan sahabat yang mengantarnya, dengan hati berat ia pun memberitahu orangtuanya. Sudah tidak terpikirkan lagi apakah ia akan diterima PPDS atau tidak. Baginya, jika jalan itu memang demikian yang terbaik untuknya, pasti itu yang Allah akan berikan padanya, jika tidak, mungkin ada hal lain yang lebih baik yang ingin Allah berikan.

Rencana operasi jantung akan dilaksanakan di sebuah RS terkenal di Jakarta. Sampai disana, profesor yang menemuinya pertama kali sungguh terkejut mendengar riwayatnya. Sangat jarang ada kasus seperti itu, ujar beliau. Maka sang profesor melakukan pemeriksaan fisik seperti yang biasa dilakukan ahli sepertinya. Tidak ditemukan bising apapun, padahal seharusnya VSD berbising sangat jelas. Ia pun diminta eko ulang sebelum operasi.

***

Mungkin aku sedang bertanya2 saat itu, kenapa acara ’kumpul2’ kami yang seharusnya rutin tiap minggu itu tidak kunjung diadakan. Rupanya, ia sedang di Jakarta saat itu. Sibuk dengan keputusan Tuhan akan hidupnya yang tiba2 saja berubah 180 derajat.

Namun hari ini ia kembali berkumpul dalam lingkaran bersama kami, menceritakan kisahnya untuk diambil hikmah dan pelajaran. Tak ada operasi, tak ada VSD, tak ada ASD, yang ada hanya MVP ringan dan dia diterima sebagai residen tanpa rasa bangga berlebihan.

Betapa mudah Sang Sutradara itu merubah nasib manusia. Betapa doa yang kita panjatkan tidak pernah akan sia2. Betapa prasangka baik, akan selalu membawa kita lebih banyak pada kebaikan. Dan betapa Ia sesuai dengan prasangka hambaNya.

Wednesday, May 13, 2009

That Spirit of Life

Hari ini, di radioterapi, aku berjalan cepat melintasi ruangan itu, ruang tunggu yang dipadati pasien. Pasien… Pasien2 tanpa harapan, pasien2 yg waktu hidupnya ‘bisa dihitung’, pasien2 yg menunggu...

Aku tidak ingin mengangkat kepala sebenarnya, tapi aku tak punya alasan tidak melakukannya tanpa teman disampingku untuk mengalihkan perhatian. Dan kemudian aku bisa melihat wajah2 mereka. Wajah yang mengingatkan aku pada satu orang. Yang tidak pernah aku lupa. Yang kemudian membuat kerinduanku membuncah. Dan membuat hatiku merintih. Dan tiba2 saja kaca2 bening itu hadir di pelupuk mata.

Seorang wanita kurus kering dengan posisi duduk membungkuk, wanita lain dikursi roda menutupi sebagian bawah wajahnya dengan kerudungnya, bapak2 dengan dengan coretan hitam di wajahnya memegangi botol bersedotan, dan yang lain dengan tampilan fisik yang menyayat hati dan membuat orang awam bertanya2, kenapa mereka?

Seorang bapak2, mungkin penunggu pasien menatapku heran karena berjalan begitu cepat. Aku melihat lurus ke depan, tapi pandanganku masih kabur, jika bukan di keramaian mungkin kristal2 itu sudah pecah seketika.

Apa kau tahu arti semua itu? Arti semua pengorbanan dan kepasrahan itu?

Lihat matanya... Matanya hidup, matanya bukan mata orang yang kalah, mata mereka adalah mata seorang pejuang.
Semangat mereka...yang bahkan tidak dimiliki orang biasa yang sehat. Semangat itu yang membuat mereka bertahan, entah dengan alasan apa. Semangat itu juga yg membuatnya bertahan, dan entah sampai kapan.
Jika sudah demikian ’hitungan waktu’ itu menjadi tidak penting. Bukankah esensi kehidupan adalah pada isinya, bukan lamanya...?

***

Tuhan, maukah Kau berbaik hati…sedikit saja, jika bukan untukku, tolonglah untuk ibuku...
Maukah kau Tuhan, mencabut semua rasa sakitnya, menghapus semua dosa2nya, meringankan segala urusannya, membahagiakan setiap bagian dari hidupnya. Ibu yang selalu melakukan yg terbaik untukku, lalu ia meminta maaf kepadaku malam ini… Anak macam apa aku, Tuhan... Aku yg seharusnya meminta maaf padanya, krn begitu byk kesalahan yg kulakukan, krn begitu byk kewajiban belum kulakukan.
Tuhan, maukah melindung ibuku yg selalu mendoakanku, membesarkanku tanpa minta imbalan, hanya ingin aku jd hambaMu yg baik….
Tuhan maafkan aku… Tolong dengar aku sekali ini, maukah Kau berbaik hati……

Monday, May 4, 2009

Ingin kubacakan Qur’an

Ingin kubacakan Qur’an di sampingmu, Bunda...

***

Bunda, hari ini aku sudah sampai surat Al-Mulk, kerajaan. Surat ke-67 dari 144 surat-Nya, juz 29, dan terdiri dari 30 ayat. Kau pasti akan senang mendengarnya. Surat ini dibuka dengan nama-Nya, Mahasuci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Bunda, dua malam yang lalu aku masih si sampingmu, sekarangpun, aku harap Tuhan mau menyampaikan bacaanku ke telingamu. Percaya bahwa ada putra-putrimu yang akan selalu mendoakanmu, dan lebih lagi, percaya bahwa doa-doa itu pasti akan Ia kabulkan. Ia, Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kita, siapa diantara kita yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa, Mahapengampun.

Saat itu aku membaca arabnya, dan bapak membaca terjemahannya. Lalu kemudian kau memintaku melanjutkanya lagi, hingga satu surat penuh kuhabiskan. Bahagiakah kau Bunda? Aku harap engkau bahagia. Karena aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan agar membuatmu bahagia, aku lakukan sebisaku.

Ia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kita lihat sesuatu yang tak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Mahapengasih. Aku memohon pada penciptamu, pada penciptaku, pada Yang Mahapengasih itu, maukah Kau Tuhan, menyembuhkan ibuku…?