Thursday, November 26, 2009

Catatan Kecil di Kereta

Kereta ini membawaku melintasi perbatasan kota-desa-gunung-lembah-bukit-sawah-hutan-sungai. Mengulang memoriku 6 tahun terakhir ini, betapa cepatnya. Membongkar kembali rinduku pada bunda, mengirimkan kembali pesan2 pendek pada teman2 ‘lama’, dan menyiapkan pijakan yang lebih utuh untuk rencana masa depan. Masih bingung, kadang masih marah, kadang juga merasa agak lega. Karena itu berarti pencarian lagi, petualangan lagi, perjalanan lagi.


Semalam nontok Kic* Andy sampai selesai. Tentang orang2 yang begitu yakin akan mimpi2nya, punya tekad sekuat baja, punya kepolosan sejernih embun, sejuk dan menyegarkan. Mereka sederhana, tapi dengan usaha yang sungguh2 mereka bisa mengubah segalanya, bermula dari diri mereka sendiri. Andai duniaku juga bisa sesederhana itu, seringan itu, sebersyukur itu, tentu tidak ada yg sulit dan membuat emosi kan. Semuanya akan lebih mudah dan damai, tenang dan bahagia. Jadi, kapan kita akan berhenti mengeluh dan menggantinya dengan syukur?


Setidaknya hari ini indah, sawah masih hijau, sungai2 kecil dengan batu2 besar, mendung dan udara yang lembab, tak peduli manusia berteriak di lorong kereta yang limbung. Syukuri saja. Yakinlah tidak pernah ada yang sia2, apalagi itu ciptaanNya.

Monday, November 16, 2009

No pain no gain

”Siapa tahu rejeki kita disana, ya kan?”

Bex tertegun, lantas tersenyum setuju. Ia sangat menyukai nada optimisme itu. Dari seorang teman yang dikenalnya dalam 6 tahun terakhir ini. Mereka sempat dekat di tahun-tahun pertama. Stelah itu mereka masih menjadi partner yang baik.

Menurutnya, mungkin ini juga jalan yang ingin dia tempuh. Jalan yang tidak selalu mudah. Yang agak berliku. Yang ada turunan, tanjakan, dan belokan tajamnya. Yang dibalik belokan itu telah menunggu hal mendebarkan yang mengejutkan.

Jelas, Bex tidak ingin segalanya terlalu mudah. Seperti ketika ia merengek ke orangtuanya di masa kecil dulu. Ini bukan lagi permen, balon, atau game di timezone. Ini masa depannya. Jadi ia yang akan memutuskan langkahnya. Meski kebingungan tapi Bex, ia tahu, seharusnya menikmatinya. Ini perjalanannya, petualangannya.

Siapa tahu rejeki kita disana. Bex tersenyum, dan tidak ragu lagi menjalani hari itu. Teman memang selalu menginspirasi.

Saturday, November 14, 2009

Sebentar saja

Aku ingin tinggal disini sebentar saja
Menyapamu sebentar saja
Bercakap denganmu tidak lama
Bercanda sekilas seperti biasa

Aku sungguh tidak ingin berlama-lama menahanmu
Aku tidak ingin mengganggumu dan mimpimu
Aku ingin kau bergerak dan bernafas
Sama seperti kau biarkan aku bebas

Maka akan kurelakan waktu berlalu
Memberikan apa yang tersisa untuk kita
Menikmati apa yang ada
Segala pembicaraan sederhana

Mungkin itu tentang mimpimu
Barangkali itu tentang mimpiku
Tapi tak ada yang lebih berharga
Selain bahwa kita pernah merangkai mimpi bersama

Sekarang sudah saatnya
Kau bebas kepakkan sayapmu
Dan aku juga akan melanjutkan perjalananku

Terimakasih sahabat
Untuk waktu yang sebentar saja
Yang rasaya akan selalu demikian
Sebentar saja

Monday, November 2, 2009

Sumpah

Hari ini jadi hari bersejarah buat aku, buat rekan2 sejawatku, buat FK UNDIP-ku, buat Indonesiaku, jika boleh kutambahkan –ku pada semua kata2 itu. Jadi sejak pagi buta, bahkan sebelum adzan shubuh, aku sudah bersemangat mandi, mengenakan kebaya emas, dan melintasi jalanan Semarang yg masih diterangi lampu2 jalan yg temaram menuju Semeru, rumah eyangnya seorang sahabat. Kami memang telah sepakat memanggil tukang rias kesana, make up dan kerudung cantik, benar2 membuat kami semua cantik. Ya, hari ini semua cewek efka cantik2, jauh dari biasanya yg kucel, kusam, khas habis jaga banget. 138 dokter baru bayangkan. Akan kemana saja ya mereka semua? Ups, kami ding, hehe... Lbh baik tanyakan aku sendiri dulu, mau kemana aku?

Hari ini, aku sadar hari terakhir kami bisa berkumpul, lengkap seperti ini. Aku ingin saat seperti ini terabadikan, dalam memori, melengkapi memori 6 tahun itu, menutupnya dg gemilang, untuk kemudian menyambut tantangan2 baru yg lbh mendewasakan lagi. Mungkin, tantangan pertamanya adalah, kita tidak bersama2 lagi, dalam artian yg harfiah, benar2 sendirian. Kita menentukan langkah sendiri, kesalahan kita tanggung sendiri, keputusan kita buat sendiri, tgjwb di pundak kita sendiri. Mungkin krn belum terbiasa aku jadi sedih, menangis. Tapi meskipun demikian, saat2 spt ini memang hrs ada. Saat2 transisi, saat untuk bergerak, saat untuk maju, saat untuk memulai yg baru. Aku ingat tulisanku dl ttg ‘lone ranger’. Kira2 kami skrg ini spt itu tdk ya...

Semoga kami cukup tegar dan pintar menghadapi hari2 baru kami. Semoga tdk perlu ada kesombongan, rasa canggung, atau segan dikeesokan harinya diantara kami. Semoga silaturahim itu tetap terjaga, dan tetap erat mengikat kami. Bahkan sumpah kami pun telah berkata, kami bagaikan saudara sekandung...