Wednesday, September 30, 2009

Ramaya Ballet and Our Life Drama

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan menyaksikan karya besar itu. Beruntunglah Indonesia, tarian yang satu ini belum dihakmilik bangsa lain. Karena bagi saya, sang orang awam biasa, rakyat jelata yang sekedar penikmat seni, sendratari ini sangat memukau, luar biasa indah, seperti sihir. Bukan macam sihir yang ada di televisi dengan dandanan serba hitam dan mistis, tapi sihir dari budaya asli bangsa kita, menyentakkan benak dan kesadaran, ini budaya kita, tidak pernah kalah dengan budaya bangsa lain. Meski tidak mengerti keseluruhan ceritanya (jika tidak membaca selebaran yang kemdian dibagikan), meski hanya menonton dari deretan bangku kelas II yang bermeter2 jauhnya dan sebagian tertutup tiang, meski tidak lagi sedekat dahulu (kata ayah) dengan Prambanan, meski bahkan saat itu bukan masanya bulan purnama, pertunjukan itu tetap membuat terpana. Pelan2 saya susuri kembali ingatan masa kecil, bagaimana itu cerita Ramayana, siapa saja tokoh2nya, peran antagonis dan protagonisnya, saya rasa saya masih ingat siapa tokoh favorit saya…

Itu sungguh hal yang melegakan, ketika saya berhasil menggali ingatan2 itu kembali. Karena ternyata ingatan itu sudah terkubur sedemikian dalam. “Kok, mbak Ulin masih ingat sih?”

Ternyata sejak dulu, sejak kecil, saya mencintai epos2 ini, semacam perang Mahabarata… Para Pandawa versus Kurawa, padang Kurusetra, kecantikan Drupadi, pengorbanan Abimanyu…

Anak2 sekarang, entah masih kenal atau tidak ya, dengan tokoh2 wayang itu? Karena saya rasa, saya saja banyak yang lupa. Mungkin jika saya tidak pernah menyaksikan sendratari ini, saya juga sudah melupakan Sri Rama dan Laksmana, adiknya. Apa mereka juga punya tokoh wayang favoritnya?

Hal ini pasti tidak lepas dari peran orangtua, terutama ibu, yang tak segan membelikan saya banyak buku untuk saya lahap saat saya sedang haus2nya akan ilmu pengetahuan. Saat itu otak saya sedang bekembang pesat, akson2nya sedang membuat jalinan yang rumit, yang tak kan tumbuh lagi di usia saya yang selanjutnya menginjak remaja dan akhirnya dewasa.
Selain wayang, saya juga menyukai cerita rakyat daerah seperti Timun Mas, Aji Saka, Loro Jonggrang. Tapi tak hanya itu, sebenarnya saat itu saya juga penggemar berat kisah dewa dewi Yunani, dongeng karya2 Hans Cristian Anderson, cerita2 Disney. Di fase yang selanjutnya, kegemaran saya kemudian merambat ke novel2 detektif macam Lima Sekawan, hingga ke sastra Islam yang sedikit banyak mempengaruhi perkembangan saya melalui masa2 kritis, masa remaja.

Kembali ke Ramayana. Kisah yang dipahat di dinding Prambanan dan kemudian menjadi sendratari ini juga tidak semata bercerita tentang tiga tokoh, Sri Rama, Rahwana, dan Dewi Shinta, meski mereka pemeran utamanya. Di dalam jalinan ceritanya juga terdapat pertikaian antara Subali dan Sugriwa, pengorbanan sang Garuda Jatayu, keberanian sekaligus kelembutan Tijata. Yang membuat cerita itu lebih hidup dan lebih nyata, bahwa dalam kehidupan kita , keberhasilan kita, pasti ada peran2 orang2 lain di dalamnya. Kadang prasangka membuat kita gelap mata, seperi ketika Sri Rama hampir menuduh Jatayu menculik Dewi shinta. Kadang nafsu kita yang mengangkasa, selain layaknya Rahwana, juga nafsu kecil seperti saat Shinta menginginkan kijang emas hingga suaminya rela mengejarnya.

Cerita ini ternyata sangat unik jika dilihat masing2 sisi2nya satupersatu. Saya seperti sedang bercermin di air yang bening. Sambil mengagumi budaya nusantara, saya juga berkaca diri. Siapa saya dalam kisah itu? Apakah saya sudah seperti tokoh favorit saya?
Oya, tokoh favorit saya adalah Laksmana, tau kenapa…? ;)

Monday, September 14, 2009

Pengingat Kecil

Ada saat-saat dimana kita bisa bahagia dengan hal-hal kecil, hal-hal remeh temeh, hal yang sebenarnya tidak lagi asing atau baru bagi kita, namun kita seperti baru saja menyadarinya. Saat itu, mungkin Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita, berusaha meruntuhkan kesombongan kita, mengajari makhluk bengal bersama manusia, dan kita beruntung masih ditegur dengan cara-cara yang ‘sopan’, penuh kasih sayang khasNya.


Seperti malam itu ketika aku (akhirnya) pergi juga ke masjid untuk menunaikan sholat isya’ dilanjutkan tarawih. Ada aura tersendiri yang membuatku rindu untuk kembali kesana, ke masjid, walaupun itu cuma masjid kecil di kompleks perumahan kami. Masjid itu tadinya mushola, yang kemudian dikembangkan dari dana donator sana-sini hingga menjadi lebih luas dan layak disebut masjid. Sudah ber-Ramadhan2 ketika aku kecil dulu ikut tarawih disana, maklum paling dekat rumah. Dan hal itu, tidak pernah kusangka akan menjadi kerinduan tersendiri saat bulan Ramadhanku tidak dihabiskan di rumah, melainkan di bangsal rumah sakit misalnya.


Kita tak pernah mensyukuri sesuatu sampai kita sadar saat nikmat itu dicabut dari diri kita, kata seorang ustadz pada ceramah malam itu. Tapi benarkah? Mungkin jangan sampai nikmat itu dicabut dulu, mungkin kita hanya butuh pengingat2 kecil. Seperti yang terjadi saat aku sedang asyik dengan Qur’anku, bertadarus di tengah saf wanita pertama. Pengingat kecil itu diucapkan oleh seorang ibu setengah baya yang duduk bersila di sebelahku. Tanpa menunggu aku berhenti membaca sampai ‘ain, suaranya telah membuatku ‘terpaksa’ menengok mengalihkan perhatian dari mushaf di tanganku. “Mbak, emang kelihatan tulisannya? Kecil banget tuh!”
Bacaanku terhenti, dari heran, berganti senyum, “Kelihatan kok, Bu…”
Alhamdulillah, ucap hatiku sebelum lanjut membaca ayat2 suciNya. Pengingat kecilku sedang berbunyi, mengingatkanku untuk mensyukuri karunia besar bernama penglihatan. Penglihatan yang walaupun kita ‘miliki’ namun tidak selamanya bisa ‘sempurna’. Sekarang ini saja aku sudah pakai kacama minus, tapi syukurlah untuk membaca huruf2 kecil tidak menjadi masalah. Sementara bagi ibu itu, yang usianya barangkali menginjak setengah abad, membaca tulisan sekecil mushaf itu tidak dapat dilakukannya.


Terimakasih Tuhan, jangan ambil nikmat ini dulu, aku akan berusaha mensyukurinya tanpa perlu kehilangannya. Syukur kecil itu ternyata membawa kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan sederhana dari nikmat yg sebenarnya tidak pernah kecil dan sesederhana itu.