Friday, July 24, 2009

40 hari bunda

Aku sudah berhenti menangis sejak awal. Sejak pertamakali diberitahu bahwa akhirnya kami harus mengikhlaskan. Sejak tahu bahwa inilah saatnya ketakutanku yg hanya ketakutan itu menjadi kenyataan. Aku sudah pernah menangisinya dalam khayalanku dulu, dan aku sudah tidak takut lagi untuk menghadapi kenyataannya kini.

Sebelum saat tiba, beberapa kali aku memang kadang terbangun dengan tiba2 dan menangis. Atau sibuk berkhayal terlalu dalam dan menangis. Dalam setiap tangisan itu terselip segala macam kekhawatiran dan harapanku, dan itu semua ada komponen dari doa seorang hamba. Mungkin itu cara Tuhan menyiapkanku. Hingga tak perlu aku menangis meraung2, lebih panjang dan histeris, ketika sudah tiba saatnya. Aku bisa membisikkan kalimat Allah di telinganya dengan tegar tanpa suara bergetar, aku bisa melihat detik2 akhir nafas dan nadinya tanpa pandanganku tertutup kabut air mata, aku bisa menghibur adikku dan mengatakan ‘tidak apa2’ karena ia memang tidak apa2, ia hanya pulang, dan kelak kita juga akan menyusulnya, jadi tenang saja.

Jika ada air mata yg sampai saat ini menetes. Itu sungguh bukan airmata penyesalan kepergiannya, bukan air mata kesedihan krn tak ikhlas padanya. Air mata itu hanya air mata seorang anak yg tidak bisa menepati janji untuk membahagiakan ibunya di dunia. Padahal selama ini anak itu berdoa pada Tuhannya. Ya Tuhan kami ampunilah kami dan kedua orangtua kami, dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami disaat kami kecil. Doa itu, dulu selalu kupertanyakan diam2 bunyinya. Kenapa harus disaat kami kecil? Kenapa tidak berhenti pada seperti mereka menyayangi kami?

Hari2 belakangan, sebelum hari kepergiannya, aku sedang sibuk dg akhir faseku kuliah kedokteran. Perjalanan ini sudah kutempuh hampir 6 tahun, tinggal sedikit lagi yg hrs kulakukan untuk menyelesaikannya. Aku, dengan bersemangat tidak ingin meninggalkan atau menundanya, hanya untuk menunggu sesuatu yg tidak pasti. Setelah ini aku bisa disampingnya, batinku yakin. Setelah ini aku bisa berlama2 dengannya, kataku tanpa peduli. Saat itu, kami masih sangat optimis, krn ia sendiri sangat optimis. Tak pernah dibicarakan perihal pesan2 wasiat, asuransi, atau tabungan. Doa kami setiap hari masih sama, berikanlah kesembuhan pada ibu kami. Tak ada kata menyerah. Kami bahkan masih merencanakan lebaran tahun depan dimana dan apa saja yg akan kami lakukan.

Tapi manusia memang paling pandai berencana, sayang bukan mereka yang menentukan. Suatu hari (aku benci menceritakan ini), aku ditelepon lagi. Mendapat kabar bahwa kondisinya kritis. Sebelumnya aku sudah bolak-balik pulang dari desa tempat aku bertugas ke kota dimana keluargaku tinggal, jadi aku malah bertanya, apa aku perlu pulang? Pertanyaan itu terdengar jahat, dan memang begitulah. Begitulah mengapa air mataku masih tetap ada untuk sebuah penyesalan. Penyesalan bahwa aku tidak serius dengan doaku. Kasih sayang orangtua saat anaknya kecil tidak akan berbentuk seperti itu. Orangtua, apalagi seorang ibu, pasti akan segera pulang, berada selalu di samping anaknya, tak peduli sesibuk apa pekerjaanya, semuanya non-sense, tidak ada apa2 dibandingkan anak2nya. Jikpun ia sedang kuliah kedokteran misalnya, atau sedang punya proyek yg lebih besar itu, ia bahkan telah meninggalkan sejak dulu. Sejak anaknya berada di rumah sakit, apalagi jika telah bolak-balik masuk ICU. Jadi... kemana hati nuraniku saat itu? Kemana inti dari doaku? Apakah aku serius dg doaku? Jika yg memohon saja tidak berusaha, apa Tuhan mau bersusah payah mengabulkannya?

Doa itu ternyata, ada faktor kita untuk mengabulkannya. Ada faktor usaha, ada faktor kesungguhan. Apa yg dikatakan bahwa Ia tak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri merubahnya itu adalah benar.

Aku bukannya tak sayang ibu, aku sayang sekali. Tapi sayangku ternyata tidak sama dengan kasih sayangnya pada kami ketika kami kecil. Jadi, aku masih selalu meminta padaNya, tolonglah agar Ia mengampuni dosa2nya, menyayanginya sedemikian rupa.

Maafkan aku, bunda. Aku anak yang gagal membahagiakanmu di dunia, tapi aku berharap masih punya kesempatan dan sanggup membahagiakanmu di akhirat.

2 comments:

  1. subhanallah..
    nangis mbak, bacanya.

    mbak ulin semangat ya, tetap sabar.. Allah sayang mba ulin. Takdoakan selalu :)

    ReplyDelete
  2. sudahlah mbak, nggak ada yang gagal, kalaupun ada yang gagal dan perlu disalahkan, itu kita semua, kita semua yang kurang mendoakan dan berusaha dan belajar dari pengalaman yang'kung

    ReplyDelete