Thursday, April 23, 2009

Pasien baik hati vs Koass dodol

Sedang asyik-asyiknya mengerjakan pasien eksodonsi siang itu, di klinik gigi mulut tempatku bertugas dan belajar, tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil. Kertas kuning melambai2. Oh, aku ujian sekarang?!
Masih memakai hanscoon (sarung tangan), belum sempat kuperiksa apakah infiltrasi pada pasienku tadi berhasil, aku terpaksa meninggalkannya tanpa melihat dulu prosesi pencabutan giginya. Gigi molarnya goyang, dari oral diagnostic, kami sepakat diagnosanya periodontitis marginalis et causa retraksi ginggiva. Hm, lupakanlah, aku punya pasien baru sekarang. Pasien ujianku.

“Yang, mana dok?” tanyaku pada dokter gigi yang memberiku kertas kuning.
“Itu, yang lagi hamil!”
Dueng! Lagi hamil??? Terbayang betapa kompleks masalah pasien ini. Lagi hamil, terus mau kukasih obat apa? Padahal aku tahu penyakitnya saja belum, hehe… Atau jangan2 hipertrofi gingivitis atau epulis gravidarum? Wah, belum pernah lihat nih..
Penasaran, campur aduk dengan tegang, deg-degan, cemas, kutemukanlah pasien ujianku sudah duduk manis di salah satu dental unit biru. Satu2nya pasien hamil di ruangan itu, dan satu2nya pasien dengan pipi yang melembung. Waduh, abses nih, judge-ku langsung. Abses apa ya?
Grogi, pertama2 persiapkan alat, menyapa pasien, dan agak tenang, karena sang ibu meskipun hamil, mulutnya kesakitan, dan jadi bahan ujian koass (yang ini sepertinya dia ga tau deh), masih tetap kooperatif dan mau menjawab pertanyaanku dengan bersahabat.
“Namanya siapa bu? Iya, pekerjaan? Alamat? Umurnya berapa, Bu?”
Wah, ternyata kita seumuran lho! Batinku. Cuma dibatin, tanpa berani ngomong langsung. Habis, sudah kalah 1-0 duluan. G1P0A0, 23 tahun, hamil 34 minggu lho, hehe..
“Rujukan atau datang sendiri, Bu?”
Si ibu langsung menunjuk-nunjuk lehernya.
“Oh, punya sakit gondok ya, Bu?”
“Hipertiroid, Mbak!” sahutnya antusias.
Hyah, keren juga ibu ini, tahu istilah hipertiroid! Aku tersenyum, dan menuliskannya di status.
Pertanyaanku berlanjut ke riwayat penyakitnya. Pipi kiri bengkak 2 minggu, sakit, makin lama makin besar, susah buka mulut. Trismus! Aku ingat diagnosis bandingnya setidaknya ada tiga macam: abses bukal, abses sub/perimandibula, atau flegmon. Flegmon jelas tidak mungkin, karena flegmon harusnya simetris, kondisi pasien juga buruk sekali.
Aku mulai memakai hanscoon baru, lalu palpasi. Pencet sana, pencet sini, raba sana, raba sini, fluktuasi kah? Perabaannya keras, batasnya tidak tegas, tepi rahang tak teraba, pembesaran limfonodi negatif. Hm, masih bingung. Tambah bingung waktu akan meriksa intraoralnya. Trismus 1 cm, gimana cara meriksanya? Kaca mulut masuk, lampu dipaskan dengan susah payah, yang kelihatan hanya sampai premolar. Gusinya bengkak, bernanah (ini fistel bukan sih?), kadang berdarah, dan sederet giginya goyang meski baru derajat II. Kasihan benar ibu ini, 2 minggu tidak bisa makan, gimana nasib bayinya…
Akhirnya kuputuskan ia menderita osteomyelitis. Dan setelah dimajukan ke pengujiku, ternyata… dong dong!!!
“Mana osteomyelitis? Ini abses bukal!”
Hya…! Salah, Bu…!

Pasien ujiankupun dirawat inap, mendapat antibiotik yang sesuai jatah untuk pasien jamkesda, dan semoga… get better soon!
Terimakasihku untuk semua pasien2ku, tempat aku banyak belajar, dan tempat mereka bersabar menghadapi koass2 macam aku… Semoga Tuhan membalas kebaikan2 mereka, dan menjadikan aku dokter yang professional.
Semangat!!!

2 comments:

  1. saya juga pernah salah diagnosa hahaha...pengalamannya lucu juga. Saya lagi googling flegmon ketemu blog ini. Salam TS

    ReplyDelete